Saturday, 4 April 2015

Sebuah Perjalanan Ke Gunung Andong 1726 Mdpl



            Secangkir kopi cappucino ala kafe dan lagu-lagu nya naif sebagai teman di akhir pekan yang selo ini, dari pada bengong, saya mau berbagi cerita tentang perjalanan saya ke Gunung Andong 1726 Mdpl kamis-jum’at 2-3 April 2015 kemarin. Alkisah perjalanan itu berawal dari keinginan saya untuk mendaki gunung setelah terakhir kemarin ke Gunung Api Purba Nglangeran Gunung Kidul pas acara muda mudi kampung, setelah beberapa bulan berlalu dan memang banyak basecamp pendakian yang tutup karena musim hujan dan juga buat pemulihan ekosistem di jalur pendakian kini gelora mendaki gunung itupun muncul kembali pas kemarin pak Anshori salah satu rekan kerja saya pasang DP di Bbm nya gambar gunung langsung saja saya ajak dia untuk mendaki gunung, dan ajakan saya ke Gunung Andong salah satu gunung yang lagi ngehits bagi kebanyakan pendaki pemula seperti saya ini hehehe…
Dari obrolan singkat tersebut beralih ke grup chat yang berisi rekan kerja semua ada pak Dwi. S, Pak Heri, Pak Ansori dan Pak Seta yang kini pindah kerja di Solo saya pun mengajak mereka untuk ikut naik ke Gunung Andong, kebetulan minggu ini ada libur di hari Jum’at atau biasa dikatakan Long Weekend, saya sebenarnya pengen ngajak naik hari jum’at atau malem sabtu namun ternyata sabtu teman2 saya tersebut ada jadwal jadi ngak bisa, oke daripada ngak jadi naik akhirnya saya yang ngalah dan kami sepakati kita naik hari kamis tgl 2 April 2015 tanggal enom sangune okeh bagi sik wes bayaran hehehe… lewat grup ini kita berbagi tentang kesiapan dan perlengkapan yang perlu dibawa saat naik nanti selain itu kita juga membujuk pak Seta untuk bisa ikut naik namun bujuk rayu kami gagal dan pak seta tetap keukeuh pada pendirian tidak mau pulang ke magelang dengan berjuta alasannya
H-1 keberangkatan persiapan yang saya siapkan sudah hampir fix, kompor saya pinjam dari Giri, tenda juga sudah pesan tinggal diambil besok sekalian berangkat, perlengkapan pribadi sudah siap, tinggal memasukan ke Tas. Hari keberangkatan itupun datang kami janjian kumpul dirumah Pak Dwi S yang masih satu kampung dengan saya sehabis ashar atau jam 15.30an, pak Heri yang rumahnya cukup jauh justru dia datang yang paling awal setelah itu saya menyusul dan kumpul sekitar jam 16.00, karena kita yang mau berangkat berempat, maka kita masih menunggu Pak Ansori yang belum datang, jam 16.15 saya telp dia katanya sudah siap-siap dan mau berangkat, oke kita tunggu..lima belas menit kemudian..kita masih menunggu…pak Heri dan Pak Dwi S mulai gelisah akupun juga demikian. Jam sudah menunjukan pukul 17.00 dan belum juga muncul tanda-tanda kehadiran pak Ansori, rasanya seperti menunggu gebetan yang ngak peka walaupun kita sudah berjuang untuk meluluhkan hatinya #halah #opoh mah curhat..
Tiba-tiba hape saya ada sms dari nomer yang ngak ada namanya, isi sms tersebut begini: “ Aq neng kmpus sek, tnggu” owh ternyata pak ansori masih ada acara dikampus, kenapa ngak bilang dari kemarin, kan kita bisa kangsengan habis maghrib jadi kita ngak kelamaan nunggu, sekitar pukul 17.30an pak ansori datang dan baru pulang dari kampus, sama sekali belum membawa perlengkapan, oke mungkin dari kami dialah yang sudah melalang buana keberbagai puncak gunung di pulau Jawa ini, tapi ya ngak mungkin juga to kalo berangkat ngak bawa apa-apa, trus pak ansori pulang dulu sekalian sama pak heri yang memboncengkannya dan saya sama pak dwi s mengambil dulu tenda dome yang kita sewa di dekat UMY dan kita janjian ketemu sama mereka berdua di Gamping. Dengan molornya waktu yang cukup lama ini kacau juga jadwal yang sudah diangan-angan dengan rencana berangkat habis ashar atau sekitar jam 15.30 atau paling molor jam 16.00 dengan etimasi waktu tempuh dari rumah menuju basecamp Gunung Andong sekitar 1.5 -2 jam kan bisa sampai sana menjelang maghrib dan selepas maghrib bisa mulai naik selain itu karena kita belum pernah ada yang pernah ke basecamp pendakian Gunung Andong otomatis kita belum tau jalan menuju kesana, kita hanya berbekal dari keterangan yang ada di blognya Taruna Jayagiri pengelola pendakian Gunung Andong.
Adzan maghrib sudah berkumandang saya dan pak Dwi S masih menunggu pak ansori dan pak heri di depan BSI Gamping, bulan masih terlihat sinarnya walaupun terkedang tertutup mega mendung, saya berharap malam ini tidak hujan dan keesokan pagi nya cerah. Sambil menunggu pak ansori, saya buka bekal kopi yang saya bikin dari rumah, setelah beberapa saat pak heri dan pak ansori pun datang, kitapun melanjutkan perjalanan ke magelang namun karena saya belum sholat maghrib kami mampir di POM bensin didaerah sidomoyo Godean untuk sholat maghrib sekalian isi bensin motor saya.
Setelah selesai sholat dan isi bensin kita lanjutkan perjalanan, baru beberap meter dari pom, air mulai menetes dari langit, dan setelah perempatan pasar Cebongan air semakin banyak yang menetes kami pun menepi untuk memakai mantrol, dan benar saja hujan turun dengan deras walaupun sudah memakai mantrol kita putuskan untuk menepi mencari tempat untuk berteduh karena hujan cukup deras, visibilitas pandangan juga sangat terbatas dan jalan berubah menjadi seperti sungai, akhirnya kita berteduh di emperan sebuah kios, sambil menunggu hujan cukup reda kita makan roti dan peyek dari pak ansori, hingga akhirnya hujan sudah mulai reda kita lanjutkan perjalanan sampai di kota Magelang ternyata jalanan kering, kita kemarin mengikuti rute seperti yang dishare di Blognya Taruna Jayagiri yaitu melalui pertigaan Canguk ambil kanan terus mengikuti jalan arah kopeng sampai ketemu pasar Ngablak belok kiri di Gapura warna biru, namun setelah sampai daerah pakis kami berhenti untuk melepas Mantol dan sambil tanya karena kami kurang paham pasar Ngablak itu mana, walaupun belum lama kemarin sepulang saya dari Ambarawa saya lewati jalan itu tapi ngak begitu memperhatikan dimana letak pasar Ngablak, sambil menunggu teman saya melepas mantol saya coba tracking pake GPS di Hp saya, namun karena sinyal internet tidak begitu bagus alhasil kami gunakan GPS manual yaitu (Gunakan Penduduk Setempat) untuk bertanya, kebetulan diseberang jalan ada dua anak kecil yang sedang berjalan, dan kata kedua anak tersebut pasar Ngablak masih terus keatas sambil menunjuk dengan tangan kanannya, setelah itu kami tancap gas kembali ke arah pasar Ngablak, langit mulai cerah dan Bulan juga sudah mulai tampak.
Dan setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya kami pun sampai di Basecamp Taruna Jayagiri Gunung Andong, setelah memarkir motor, kami pun bergegas menuju masjid yang tak jauh dari basecamp untuk sholat Isya sekalian melepas lelah sebelum melakukan pendakian, sehabis sholat dan prepare kami menuju basecamp lagi untuk membayar tiket restribusi sebesar Rp. 3000 dan parkir motor dengan tarif yang sama, tarif yang cukup terjangkau lebih murah dari semangkok baksonya pak nDuth. Owh iya tadi waktu sampai diparkiran kita juga cukup kaget dengan banyaknya motor yang ada di basecamp, wah mesti sudah rame sekali ini dipuncak, namun ternyata kata mas yang jaga parkir ini belum rame, kalo pas malem minggu motornya bisa mengular sampai jalan2 di kampung tersebut hemm bisa dibayangkan gimana ramenya bukan…
Setelah membayar dan mengisi buku tamu di basecamp kita langkahkan kaki menuju gunung Andong melalu jalan cor blok, sampai dipertigaan diujung jalan kita berdo’a dulu agar dalam pendakian kali ini diberi keselamatan dan juga tidak ada halangan suatu apapun, kemudian kami langkahkan kaki menuju jalur pendakian, pada awalnya jalur berupa tangga tanah yang dikasih bambu, jalur seperti memang dibuat untuk memudahkan pendaki, namun menurut saya justru membuat kaki cepat lelah. Belum juga sampai di pos satu, salah satu teman saya Dwi S sudah mulai terengah-engah dan merasakan tidak enak di perutnya, kamipun beberapa kali berhenti untuk beristirahat, setelah merasa mendingan kami lanjut lagi melangkah, hingga beberapa kali, saya suruh dia kasih minyak angin diperutnya dan minum tol*ak ang*in, akhirnya dia bisa melanjutkan perjalanan dengan pelan2. Selama perjalanan naik kita menjumpai bapak-bapak ibu-ibu bahkan ada yang bersama anaknya yang masih kecil turun dari atas, mereka baru saja ziarah karena diatas puncak terdapat makam yang sering dikunjungi oleh para peziarah.
Hampir sampai puncak teman saya tersebut kembali beristirahat, kamipun sepakat membagi dua, pak ansori menemani pak dwi s istirahat, sedangkan saya dan pak heri melanjutkan perjalanan dan mendirikan tenda sekaligus masak air, sehingga nanti kalo pak dwi s sampai atas bisa beristirahat dan bisa menyeduh mie yang telah dibawa. Sampai diatas ternyata camping ground sudah penuh dengan tenda, kamipun mencoba mencari tempat yang strategis untuk mendirikan tenda, setelah muter-muter akhirnya dapet juga tempatnya, dengan kemampuan yang terbatas saya sebagai pendaki pemula saya dan pak heri mencoba mendirikan tenda, walaupun tendanya tinggal pasang tapi saya cukup binggung, untung ada bapak2 paruh baya yang berbaik hati memegangkan senter yang saya bawa sambil memandu cara mendirikan tenda, bapak bapak asal Jombor yang lupa ngak berkenalan dan ngak tau namanya tersebut bercerita kalau dia sudah sejak muda dulu hobi naik gunung hingga sekarang sudah punya anak istri juga masih suka naik, kali ini dia naik mengantarkan keponakan nya yang pengen naik gunung sebelum Ujian Nasional *keponkannya cantik lho…hehehe
Akhirnya tenda sudah berdiri setalah barang bawaan masuk kedalam tenda saya menyalakan kompor untuk masak air, sambil menunggu air mendidih saya dan pak heri mencoba mengontek pak ansori dan pak dwi s, oh iya jadi di atas puncak Gunung Andong ini masih ada sinyal Hp beruntunglah kita sebagai mahluk sosial media hehehe… namun ketika saya dan pak heri mencoba mengontak pak ansori dan pak dwi s kok pending, trus saya keluar tenda coba liat kalo saja mereka sudah diluar, dan ketika saya mau balik ketenda mereka berdua datang dan pas air juga sudah mau mendidih. Singkat cerita setelah kita menikmati santap malam kamipun beristirahat karena waktu juga sudah sekitar setengah dua malan, oh iya tadi waktu berangkat mendaki dari bawah sekitar pukul 20.45 wib, dan saya sampai di camping ground pukul 12.30 ya kami membutuhkan waktu lebih dari 3 jam, ini perjalanan yang luar biasa, karena normalnya mendaki gunung Andong ini bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam saja. Menjelang pagi dingin mulai terasa ditambah hujan turun menambah dingin dan membuat badan terasa malas untuk keluar dari tenda, sekitar pukul 05.30 saya penasaran dengan suasana diluar akhirnya saya buka pintu tenda dan ternyata kabut tebal menyelimuti puncak Gunung Andong, harapan untuk melihat munculnya sang fajar dari ufuk timur pupus sudah, namun lama kelamaan kabut mulai menghilang dan keindahan alam dari Sang Pencipta pun mulai terlihat, di depan tenda kita dihadapkan dengan ke gagahan gunung Merbabu dan Merapi, sementara di sisi barat terlihat, Sindoro, Sumbing, dan Slamet, disisi Utara terlihat Gunung Ungaran, sedangkan didekat Gunung Andong terdapat Gunung Telomoyo yang pernah saya bahas di blog ini juga.
narsis dulu biar kayak anak kekinian :D


 
Panorama dari puncak Gunung Andong
Setelah puas berfoto-foto dan menikmati kopi untuk menghangatkan badan kami pun segera bergegas untuk packing dan kembali turun mengingat hari ini hari Jum’at dan berharap sampai rumah sebelum sholat Jum’at sehingga bisa beribadah sholat Jum’at di masjid dekat rumah. Perjalanan turun cukup lancar dan kita hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai bawah, setelah sampai bawah kita beristirahat sebentar sebelum tancap gas kembali ke Jogja.
Begitulah sedikit cerita saya tentang perjalanan mendaki ke Gunung Andong, oh iya saya mau kasih tips jika kalian ingin mendaki ke Gunung, berikut tips mendaki ala pendaki pemula seperti saya:
1.      Siapkan waktu luang, iya waktu selo itu penting, kalo ngak selo gimana ada waktu buat naik gunung iya to?
2.      Siapkan fisik, ini juga penting, ngak peduli seberapa tinggi dan rendahnya gunung yang ingin kalian daki kesiapan fisik juga utama, apalagi kalo kalian ingin mendaki gunung kembar hahaha
3.      Siapkan perlengkapan yang diperlukan, nah ini penting bin pokok, buatlah setlist untuk perlengkapan yang ingin anda bawa, jangan sampai waktu berangkat ada barang penting yang ketinggalan, seperti dompet dan barang-barang penting lainnya.
4.      Bacalah refrensi tentang gunung yang ingin anda kunjungi, niscaya itu akan membantu anda, karena dengan membaca kita sedikit mengerti tentang kondisi gunung yang akan kita daki.
5.      Ijin orang tua, sebelum mendaki ijin ke orang tua, baru ke pacar bagi yang punya pacar, bukan kebalik ya, ijin sama pacar, tapi sama orang tua malah lupa hahaha
Mungkin itu sedikit tips dari saya, kalau ada yang ingin menambahkan ya monggo wong itu saya juga Cuma ngarang kok tapi semoga bisa bermanfaat bagi kalian yang ingin mendaki selamat mencoba.     

Tuesday, 31 March 2015

Gowes ke Candi Ijo

  Jum’at 27 Mei 2015 bertepatan dengan acara Jogja Last Friday Ride (JLFR) yang ke 59 yaitu acara para pesepeda di Kota Yogyakarta dengan bersepeda bersama start dari std Kridosonon terus mengelilingi Kota Jogja sesuai dengan rute yang telah ditentukan para pengiat kegiatan JLFR tersebut, sesuai dengan namanya kegiatan JLFR ini dilakukan setiap hari Jum’at terakhir disetiap bulannya dan ngak terasa kegiatan ini sudah hampir 5 tahun, walaupun saya tidak selalu mengikuti acara tersebut, namun saya lihat kemarin kemeriahan, kecerian, kenylenehan dan semangat para pesepeda masih sama seperti dulu awal-awal JLFR bergulir.
            Padahal hari jum’at kemarin dari siang hingga menjelang petang Jogja diguyur hujan yang cukup deras dan saya sempat mengurungkan niat untuk bersepeda jika hujan ngak reda, namun Gusthi Alloh berbaik hati, menjelang pukul 8 malam hujan reda, walaupun di jalan sempet gerimis, kukayuh perlahan sepedaku menyusuri jalan sambil mendengarkan music dari mp3 di hp saya, biasanya jalanan ini saya lalui dengan sepeda motor, oh iya kemarin itu sepertinya juga untuk pertama kalinya saya sepedaan ke JLFR sendirian hehehe, ya sebenarnya sih niat awalnya emang ngak ke JLFR Cuma ngepasi aja pas JLFRan jadi ya sekalian. Trus tujuannya mau kemana? Beberapa hari kemarin saya ngajak Giri dan Taher sepedaan, ngak tau kenapa beberapa hari kemarin rasanya ada yang nganjel dibenak saya dan pengen sepedaan dengan rute yang cukup melelahkan untuk meluapkan kegundahan dan ke “nganjelan” yang ada dalam perasaan saya #halah #opoh
 Trus ceritanya gini berhubung Giri pindah kos dan ngontrak rumah didaerah kalasan maka saya ajak mereka untuk gowes ke Candi Ijo, iye Candi yang mempunyai letak tertinggi di perbukitan daerah Prambanan, kebetulan mereka belum ada yang pernah berkunjung kesana. Rencana awal saya nyepeda ke kost taher, setelah selesai tadarus terus menuju ke kontrakan Giri tidur disana dan keesokan paginya baru bersepeda menuju Candi Ijo, namun ketika saya nongkrong di Jalan Mangkubumi tempat kumpulnya para peserta JLFR melepas lelah sambil melihat dede’ gemes yang ikut gowes hahahaha :matabelo iseng2 saya coba ngajakin Tejo, dan ternyata dia mau ikut dan ngajak Panji.
Sambil menunggu Taher sama Giri selesai ndarus dan saya mulai bosan di jln Mangkubumi, akhirnya saya menuju Iromejan dan menunggu mereka di Angkringan Pak Min tempat biasa buat ngangkring kalo main dikost e Taher, sampe sana saya pesen Teh Jahe panas ben ra masuk angin, sambil minum dan makan gorengan akhirnya Taher dan Giri nonggol dan saya bilang ke mereka kalau besok pagi Tejo dan Panji mau ikut gowes, akhirnya saya ngak jadi tidur dikontrakannya Giri, dan bermalam di Kost lamanya Taher yang sudah kosong melompong karena semua barang sudah dipindah ke kostnya yang baru, tapi masih boleh masuk ke kostnya yang lama selama belum ada penghuninya.
Singkat cerita malampun berlalu penuh dengan kegelisahan dan kegundahan, suara adzan subuh Masjid Al Husna terdengar cukup keras dan menandakan bahwa sang surya akan segera muncul di ufuk timur, saya lihat Hp, Tejo dan Giri sudah mengirim pesan lewat BBM, saya dan Tejo janjian ketemu jam 5.30 di pasar Demangan, jam sudah menunjukan jam 5.30 tapi Taher belum juga muncul dari Kamar mandi, akhirnya jam 5.45 saya berangkat dari Kost Taher, sementara Tejo dan Panji sudah menunggu di pasar Demangan, oke setelah ketemu kamipun melaju dengan pasti menyusuri jln Solo yang masih cukup sepi dan belum banyak polusi udara, sementara di ufuk timur Matahari nampak samar samar bulat dengan sinar kemerahan yang penuh harapan bagi semesta. Terlalu assik dan bersemangat bersepeda saya jadi lupa Giri mau ketemu dimana ini? Akhirnya saya telpon dia dan ternyata kami sudah bersepeda cukup jauh dari kontrakan Giri, akhirnya kami tunggu Giri di salah satu Indom*art di daerah Kalasan itung2 sambil istirahat dan beli minum.
Beberapa saat kemudian Giri muncul bersama temennya, tanpa berfikir panjang kamipun melanjutkan perjalanan melewati daerah rumahnya Awis bojone Tomi hehehe, sambil melihat GPS maklum saya belum pernah lewat jalan situ, setelah ketemu jalan tembus Prambanan-Piyungan belok kiri dan ketemu pertigaan arah ke MBS dari sini saya sudah mulai hafal jalan tersebut setelah melewati jembatan kita disambut dengan Tanjakan yang cukup lumayan saya masih bisa mengatasinya namun semakin keatas tanjakan semakin membuat dengkul panas dan akhirnya sayapun nyerah dan akhirnya nuntun sepeda.
Sepanjang jalan banyak kami temui anak-anak yang mau berangkat sekolah ternyata diatas memang ada sekolahan dari TK sampai SMP, dan di depan TK tersebut banyak anak-anak yang menunggu gurunya datang, saya jadi teringgat masa masa saya duduk dibangku taman kanak-kanak datang pagi dan menyambut bu guru datang dan ketika bu guru datang kita sambut dengan penuh semangat “bu guru rawuh bu guru rawuh” sambil cium tangan bu guru hehehe sayang kemarin ngak sempet mengabadikan moment anak-anak TK tersebut dengan foto
Bukti Otentik kalau Kita bersepeda sampai Candi Ijo hehehe
Akhirnya tumpukan batu bernama Candi Ijo itu terlihat juga, temannya Giri menjadi yang pertama sampai di atas karena memang sepertinya dari bawah dia terus melaju tanpa nuntun sepedanya untuk melahap semua tanjakan manteb bener dah dengkulnya hahaha, saya menyusul di urutan ke 2 diikuti sama Tejo dan Panji, sedangkan Giri dan Taher tertinggal jauh dibelakang, setelah menunggu beberapa saat dan memarkirkan sepeda, karena sekarang kendaraan tidak boleh parkir di area candi, kalo dulu saya waktu berkunjung kesitu masih bisa parkir di area komplek Candi, mungkin jumlah kunjungan wisatawan semakin banyak dan area parkir tidak mencukupi mungkin lho itu…oh iya gimana tadi Giri sama Taher? Akhirnya saya telpon Giri untuk memastikan dia masih kuat naik atau engak, ternyata si Giri ngampet kebelet PUP sehingga konsentrasi mengayuh sepedanya terpecah dan saya semangati dia kalo diatas ada toilet :D
Setelah memastikan Giri dan Taher kuat buat naik keatas kami kemudian masuk ke area Candi Ijo, masuk ke Candi Ijo gratis, kita tinggal lapor dan mengisi buku tamu aja di Pos Satpam, setelah sampai dipelataran candi kita disuguhkan pemandangan kota Jogja dari ketinggian, runway bandara Adi Sucipto juga terlihat, namun karena kemarin masih pagi dan agak berkabut jadi kurang terlihat jelas. Untuk candinya sendiri menurut informasi yang saya baca candi ini bersusun bertingkat kebelakang seperti candi di Jawa Timur.
Biar ngak sia-sia perjuangan kita sampai diatas bukit ijo ini kita pun puas2in buat bernarsis ria semua perlengkapan fotografi kami keluarkan mulai dari tongsis hingga lensa wide hahaha…setelah puas bernarsis ria dan matahari juga semakin terik kita putuskan untuk turun dan mampir ke tambang batu karst yang ada di bawah candi Ijo, setelah mampir sebentar kita pun kembali jalan menurun yang tadi waktu naik sangat butuh perjuangan rasanya terbayar lunas saat menurun dan dalam sekejap sudah sampai bawah dan seperti ngak percaya perasaan tadi waktu naik tanjakanya panjang banget namun ketika turun mung mak wess udeh sampe bawah. Dalam perjalanan pulang kita sempet dapet ujian, ban sepeda Tejo ketempelan baut, jadi bocor deh, setelah nuntun sepeda karena bocor yang cukup jauh akhirnya dipinggir jalan Prambanan-Piyungan terdapat tukang tambal ban yang ternyata yang nambal seorang perempuan salut deh. Setelah selesai nambal kami lanjutkan perjalanan sama seperti rute berangkat tadi, tidak jauh dari tempat tambal ban tadi giliran saya yang menemukan keganjalan pada sepeda saya, kayak ada bunyi ingik ingik seperti ada masalah pada rem saya, memang dari kemarin rem belakang perlu di setting ulang tapi berhubung dirumah ngak ada kunci jadi belum sempet, dan akhirnya saya paksakan sepeda saya dengan kondisi rem belakang yang agak ngesut jadi semakin berat kayuhan sepeda saya ditambah rasa lelah yang mulai terasa dan panas matahari yang semakin menyengat.
salah satu cara melepas lelah :D | foto ngo iphone tejo
 Sebelum bandara kami berpisah dengan Giri dan temannya yang kembali ke kontrakannya, setelah bandara tepatnya di depan kantor imigrasi kami berhenti sebentar untuk menikmati segelas es dawet sambil melepas lelah, setelah itu kami lanjutkan perjalanan lagi hingga akhirnya sampe perempatan Demangan kita berpisah dengan Tejo dan Panji yang ke Utara melalui Jln Affandi untuk menuju kost nya sedangkan saya dan Taher lurus kebarat. Sampai di kost Taher rasane mak nyessss anyepp tenan sama seperti sikap kamu yang anyep mbak… #halah
Singkat cerita setelah cukup beristirahat dan makan di kostnya Taher saya kayuh kembali sepeda saya menuju ke Bangunjiwo dan piambakan maning sekalian mampir ke toko sepeda esa jaya untuk nyetting rem belakang hidrolik sepeda saya, akhirnya hampir pukul 3 sore saya dengan selamat sampai dirumah itulah perjalanan naik sepeda saya ke Candi yang ke-2 setelah dulu sekitar tahun 2008 saya juga pernah bersepeda ke Candi Borobudur dan itu saya kira lebih extrem lagi dan ini juga sepertinya cerita diblog saya yang terpanjang hehehe.  

Sunday, 15 March 2015

ini tidak biasa

Ahad 15 maret 2015, tadi malem sebenernya ahad pagi ini saya pengen gowes ke pantai, entah kenapa dari kemarin rasanya pengen sepedaan di pantai, sepertinya ada daya tarik yg seolah mengajak ku untuk mengenjot pedal sepeda ku kepantai, namun apa boleh buat, babe sekaligus partner gowes sy tidak mau sy urungkan niat gowes kepantai tersebut, dan apa boleh buat keesokan paginya saya bangun kesiangan dan ngak jadi gowes deh karena ditinggal babe yg berangkat gowes sendirian, alhasil sy nonton tv dan melanjutkan tidur sy hingga kebagun lg jam 8 pas acara kartun minggu pagi favorit saya Doraemon :), selain gowes agenda hari ini sebenernya saya ingin kumpul sama temen2 kampus saya dulu di kost nya Taher sebelum dia pindah kost, seperti apa yg telah saya ceritakan dipostingan sebelumnya, sudah sejak hari jum'at saya ngomong dgn Taher dan beberapa teman yang lain, dan ketika beberapa teman saya menunjukan antusias ingin ikut ternyata saya sendiri malah ndak bisa alhasil acara tersebut ditunda sampai minggu depan dan semoga tidak ada halangan dan taher jg belum pindah :)
saya ngak jadi ikut karena ada sesuatu hal, babe saya seperti biasa sehabis gowes selalu ada saja kegiatan yang dilakukan dirumah, bagi babe sepertinya hari minggu tetep bukan hari selo buat sante dirumah, pagi tadi sehabis gowes babe memotong tanam yang menjadi pagar di depan rumah, ketika sudah mau kelar tiba2 terdengar suara heboh kalau babe di gigit ular dan ini yang menjadi tidak biasa, setelah saya lihat bekas gigitan ular tersebut saya pun bergegas untuk membawa babe ke puskesmas harapan saya untuk mendapat pertolongan pertama, namun harapan saya lenyap begitu saja ketika masuk ke ruang IGD puskesmas dan dokter nya berkata bahwa disitu tidak punya obat bisa ular, walaupun panik saya coba tetap tenang, dan langsung saya bawa babe ke PKU Gamping, disini juga tidak biasa karena biasanya RS ini sepi dan biasanya saya kesini juga cuma jadi pasien2an hehehe tp pagi ini RS ini rame karena berbarengan dengan milad PKU Yk yang ke-95th dan pagi ini saya bawa Pasien beneran! setelah masuk IGD, dan dibersihkan bekas luka gigitan ular dan diberi serum anti bisa ular serta hasil cek darah dan rekam jantung masi bagus sy pun cukup lega, namun saat mau saya ajak pulang ternyata tangan babe malah membengkak, alhasil sama dokter di suruh opname dulu untuk diobservasi luka tersebut 1x 24jam, ya semoga saja nanti sudah bisa pulang, GWS Dad :*

Sunday, 8 March 2015

akan menjadi kenangan

            Sudah pasti ini akan menjadi hari-hari terakhir berada di sebuah tempat yang penuh kenangan selama masa kuliah dulu hingga kini dan nanti tentunya akan selalu menjadi kenangan, bagaimana tidak sudah kurang lebih 5 tahun tempat itu menjadi tempat singgah sementara bagi saya, Secara resmi memang saya tidak kost disitu, karena yang kost di situ Taher salah satu teman kuliah saya, dulu moko juga sempat kost disitu jadi ada 2 kamar yang bisa buat “nunut ngeyup” selama masa kuliah dulu. “Nunut Ngeyup” disini menjadi multi tafsir bagi saya, karena bukan Cuma sekedar buat numpang berteduh sehabis kuliah namun juga tempat membuat tugas, kadang sampai beberapa malam tidur disana, saya masih ingat waktu itu ada mata kuliah Lukis 1 yang tugas membuat 6 lukisan dalam satu semester, tidak banyak sih sebenernya, tapi ya tau sendiri kalau ada tugas pasti tidak langsung dikerjakaan kalau belum mendekati deadline pengumpulan tugas di akhir semester, alhasil saya tiap malem begadang di kost taher dan moko dan bersama teman yang lain ada bangkit dan habib waktu itu yang ikut nglukis disitu, dan tidak hanya tugas lukis 1 yang saya kerjakaan disitu masih banyak tugas lain yang saya kerjakaan disitu, dan pasti sudah ngrepoti dan membikin berantakan kost mereka hehehe matur nuwun banget lur… Hingga akhirnya kost tersebut mendapat julukan Padepokan karena saking seringnya buat kumpul temen2 tidak hanya untuk membuat tugas tapi juga terkadang sebagai tempat kumpul sebelum berangkat nonton pameran bersama di berbagai gallery yang ada di Jogja.
            Kost milik mBah Karto ini memang cukup sederhana, seperti kebanyakan tempat kost yang berada di seputran kampus, yang istimewa Cuma halaman nya yang luas hehehe bisa menampung banyak motor, untuk jumlah kamar nya sendiri cukup banyak, tapi saya lihat mbah Karto ini cukup sederhana walaupun mempunyai investasi kost2an yang cukup banyak dan biaya setiap tahun nya selalu naik dan hal ini juga yang memaksa Taher untuk hengkang dari kost ini dan ini sagat saya sayangkan karena sepertinya dia juga sebentar lagi bisa menyelesaikan studi nya, tapi aku juga bisa apa? Mau bantu bayar kost juga ngak punya duit hehehe…
            Dulu hampir semua penghuni kamar kost yang satu deret dengan Taher dan Moko saya kenal, dari ujung timur ada Handoko yang hengkang karena sering ngamar dengan temen nya trus dapet tegur dari mbah kost, trus ditengah ada mas sakban dan mas helmi, sampingnya ada kamar Moko dan paling barat ada Musa yang sudah pulang kampung setelah menyelesaikan studinya, dan sekarang para penghuninya do kurang srawung, yang saya kenal Cuma Prima yang kamar nya berada di tengah bekas kamar mas sakban.
            Kurang lengkap rasanya ngomongin kost e Taher tanpa membahas angkringan Pak Min dan misteri yang ada dikost tersebut, mbahas mana dulu ini? Mbahas misteri dulu ya, banyak cerita misteri yang beredar di kost tersebut, walaupun saya berkali-kali tidur disitu tapi belum pernah mengalami dan jangan pernahlah ya…yang paling menghebohkan ya pas ada kejadian tukang becak dari jalan solo nyasar sampai depan kost, kejadian tersebut pas bulan puasa, biasa setiap malem kalo bulan puasa rumah mbah Karto dipake buat sholat taraweh anak-anak, sehabis sholat taraweh tersebut Taher mendapati seorang bapak tukang becak yang katanya lagi nunggu penumpang di depan kost nya, katanya sudah lama nunggu nya, trus ditanya sama taher ciri2 orang yang ditunggu bapak tersebut yang sudah di ikuti dari jalan solo tadi, salah satu cirinya pake sepeda ontha dan setelah mendengar ciri2 tersebut dapat dipastikan tidak ada orang dengan ciri seperti itu yang ngekost disitu, trus orang itu tadi siapa yang di ikuti bapak tukang becak tersebut? Entahlah…dan sebenarnya masih banyak kejadian2 aneh yang terjadi disitu. Udah sekarang kita membahas salah satu penyuplai logistik selama Taher kost disitu dan juga sebagai tempat nongkrong saya kalau main kesitu, yaitu angkringan pak min, menu nya ya seperti angkringan kebanyakan tapi minuman dan pelayanannya yang terkandang membuat kangen.
            Hemmm banyak teman kuliah yang ngekost di Jogja, tapi saya tidak bisa menemukan kenyamanan sama seperti di Kost nya Taher, dan jika harus pindah kost ya sudahlah memang harus pindah dan semoga angkringan pak min tidak ikut pindah amin

Sunday, 25 January 2015

Dagadu Raceplorer 3

      Sepekan sudah acara Dagadu Raceplorer 3 digelar, namun rasa senangnya masih terasa sampai sekarang, ya acara 2tahunan yang diadakan oleh salah satu brand t-shirt khas Jogja Dagadu itu memang sangat menyenangkan dan luar biasa bagi para pesepeda, Ahad 18 Januari 2015 menjadi Ahad yang saya tunggu di awal tahun 2015 ini, betapa tidak karena di hari tersebut diadakan Dagadu Raceplorer 3 sebuah acara bersepeda keliling kota Jogja, kita diajak melihat dan menjelajah sisi lain dari kota Jogja beserta sejarahnya dengan cara bersepeda. Dalam raceplorer ini setiap tim terdiri dari 3 orang, saya beserta dua teman saya Panji dan Tejo, awal mulanya saya mengajak Oos dan Giri, namun berhubung Tejo dan Panji mau, akhirnya saya ajak mereka berdua, Giri tetep ikut dengan membuat tim sendiri, sedangkan oos ngak jadi, hahaha sorri os tak PHP :D.
       Start acara tersebut dilakukan pukul 12.30wib dari Yogyatourium di daerah gedong kuning, karena tempat start cukup jauh dari rumah saya, terpaksa saya pinjem sepeda ke Moko salah satu teman saya yang ngak ikut karena masih sibuk ngurus revisi laporan tugas akhir, saya berangkat dari kos Taher karena sepeda Moko di kos Taher daerah Iromejan sekitar pukul 09.30wib dan janjian ketemu sama Tejo dan Panji di daerah pasar Demangan, setelah menunggu beberapa saat akhirnya kami bertiga menuju Yogyatourium untuk registrasi peserta, sampai sana sepeda langsung di check kelengkapan dan kesiapan nya oleh panitia mulai dari rem hingga tekanan angin di ban semua di check secara detail. Setelah itu registrasi dan mendapat stiker untuk di tempel di worksheet yang di berikan saat race nanti. Sambil menunggu start yang masih cukup lama kami berjalan keluar cari minum dan sedikit camilan buat menganjal perut.
       Jam menunjukan pukul 12.20 dan para peserta disuruh bersiap untuk start, start dilakukan perkelompok yang terdiri dari 10 tim, nama kelompok sendiri memakai nama bregodo Prajurit Keraton Ngayogyakarto Hadingrat, tim saya mendapat kelompok Jagakarya yang kebetulan sesuai dengan Bregodo babe saya yang seorang Prajurit Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Karena lomba ini peniliannya selain Jawaban dari soal yang harus dikerjakan di setiap check poin kecepatan dalam mencapai garis finish juga dinilai. Setiap kelompok keberangkatan di beri gap waktu 3 menit, stelah start kami menuju STIE YKPN seturan untuk mengambil worksheet, begitu start saya cukup kaget karena biasanya memacu sepeda dengan santai dan disini untuk mendapat catatan waktu yang cukup baik kami harus mengayuh sepeda lebih cepat dari biasanya, alhasil sampe di STIE YKPN saya dan Tejo cukup ngos2an, setelah lapor dan mendapat worksheet disinilah petualangan yang sesungguhnya dimulai, worksheet tersebut berisi clue dari check poin yang harus dituju, ada 5 checkpoin yang harus dituju, jadi checkpoin tersebut sesuai dengan keyakinan kita dalam memecahkan clue, dua clue sudah dapat ditebak dari STIE YKPN, dan yang pertama kita menuju ke UGM, dan setelah mengitari UGM ternyata kita tidak menemukan check poin yang dituju, tanpa buang waktu kita menuju ke check poin selanjutnya ke SMA 11 yang dulu menjadi salah tempat untuk perundingan sebelum kemerdekaan, dan kalo ini benar, disitu menjadi salah satu checkpoin, setelah mengerjakan soal yang diberikan kami melanjutkan ke checkpoin selanjutnya, seharusnya kita langsung menuju ke JNM, namun karena kita kemakan isu dari salah satu ibu2 yang mengatakan bahwa di daerah Gramedia juga ada checkpoin, maka kita bergegas menuju kesana, namun ternyata itu hanya HOAX, sampe sana tidak ada apa2 alhasil kita hanya berkeliling dikota baru dan putar balik untuk segera menuju ke JNM, sampe JNM kita harus menunggu cukup lama untuk mengerjakan soal yang diberikan, itung2 sambil melepas lelah, di JNM ini tugas yang diberikan yaitu membuat 3 motif batik, gila sudah lama ngak megang canting dan waktu yang dikasih Cuma 5 menit jadinya cantingan pun mblobor2 kemana-mana, setelah selesai, kita menuju checkpoin selanjutnya dari JNM ini hujan mulai turun tapi itu tidak menyurutkan semangat kami, sambil tanya2 peserta lain dan keyakinan kami menuju ke Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat dan betul saja di barat pagelaran ada checkpoin disana, yang pertanyaannya berhubungan dengan UGM tadi, check poin selanjutnya di daerah timur pasar ngasem, inilah yang ngak masuk dalam pikiran saya kalau ada checkpoin disitu, soal yang harus dikerjakan dalam checkpoin tersebut ialah memake up salah satu peserta dalam satu tim untuk menjadi salah satu tokoh dalam punokawan, dan tim kami mendapat gambar bagong, dan dengan sukarela Panji menawarkan diri untuk di make up, dan dengan cekatan Tejo pun memakeup wajah Panji menjadi tokoh Bagong dalam Punokawan.
     Dari daerah ngasem kita menuju Check Poin yang terakhir, kalo dari clue nya sih berhungan dengan Ki Hadjar Dewantara, dan keyakinan kami check poin tersebut di Taman Siswa, namun setelah tanya-tanya tim yang lain katanya di daerah Kusumanegara, kami pun bergegas menuju TMP Kusumanegara, di perjalanan kesana hujan semakin deras, Panji dan Tejo sempat berada di depan dan saya tertinggal dibelakang karena saya berhenti di perempatan Gondomanan, di depan pasar sentul saya berhasil menyusul mereka karena mereka mampir di Angkringan beli minum, setelah membungkus minuman yang kami beli kami lanjut ke Jl Kusumanegara, sampe di depan TMP tidak ada tanda2 akan keberadaan Check Poin disana, setelah menengok kebelakang ternyata ada beberapa Tim yang belok keselatan kami pun mengikuti mereka, ternyata check poin yang terakhir tersebut berada di depan Makam Ki Hadjar Dewantara, dan selama ini saya belum pernah mengetahui kalo Ki Hadjar Dewantara dimakamkan ditempat tersebut. Setelah berhasil menyelesaikan semua check poin, kami bergegas kembali ke Yogyatourium dan akhirnya kamipun bisa finish dengan selamat, dan di garis Finish kita disambut dengan nasi kotak yang berisi nasi gudeg oh betapa nikmatnya setelah berputar kelilig kota Jogja panas dan hujan menjadi teman dan diakhiri dengan makannn. Setelah kita mendapat tempat yang teduh kita nikmati sego gudeg tersebut dan sambil ngobrol dengan salah satu peserta lain yang katanya sebelum hujan turun sudah nyampe garis finish edan tenan #matabelo tadi waktu dalam perjalanan saya juga sempat SMS Giri dan katanya dia nyasar sampe Boshe hahaha mau sepedaan apa mau dugem Gir? Hahaha dan waktu pulang sampai daerah Timoho di perempatan selatan APMD, kita juga ketemu peserta lain yang sepertinya baru mau kembali ke Yogyatourium, dan seketika itu juga Panji dan Tejo ketawa ngakakak :D dan akhirnya bakso Pak Narto sebagai penutup yang pas sore itu setelah menahan dingin dan lelah, menikmati bakso yang panas dan nikmat apalagi gratis karena di traktir Tejo lengkap dah nikmatnya…dan semoga kami bisa mengikuti lagi DAGADU RACEPLORER 4.

                   

Thursday, 13 November 2014

Gunung Prau 2565 Mdpl


Minggu lalu Kamis 6 November 2014 pendakian pertama kesebuah gunung yang bernama Gunung Prau dengan ketinggian 2565 Mdpl yang terletak dikawasan Dieng Plateu Jawa Tengah. Menyesal itu yang saya rasakan, kenapa  baru sekarang saya mendaki kesebuah gunung kenapa ngak dari dulu, ya sebenarnya keinginan untuk mendaki gunung sudah ada sejak dulu, namun karena satu dan yang lain hal saya mengurunkan niat tersebut, hingga akhirnya kini pada puncaknya rasa keinginan tersebut muncul dan tak bisa tertahankan lagi Gunung Prau lah sebagai pelariannya, ya walaupun tidak terlalu tinggi lumayanlah untuk pemula seperti saya. Sebelum ke Gunung Prau sebenarnya saya diajak untuk naik ke Gunung Merapi sama Tejo sahabat saya, namun waktu itu berbenturan dengan nikahan ponakan saya jadi saya tidak bisa ikut. Kembali ke Gunung Prau, awalnya pendakian ini saya rencankan sejak bulan oktober, namun karena kesibukan saya dan Tejo serta Panji jadwal tersebut mundur hingga awal November, sebagai pemula peralatan saya untuk mendaki sangatlah terbatas alhasil beberapa barang cari pinjaman disana sini ada juga yang beli baru “seneng larang regane” hehehe, waktu persiapan terakhir saya berkunjung ke kos Tejo dengan mengajak Taher, dan kami pun berhasil meracuni Taher untuk ikut mendaki ke Gunung Prau, Perjalanan kami mulai dari Jogja sekitar pukul 1.30, cukup molor dari rencana yang berangkat sebelum jam 12 siang, perlahan tapi pasti kita menyusuri jalan menaiki gunung menuruni lembah, hingga kurang lebih 4jam perjalanan kita sampai di base camp pendakian gunung Prau di desa Patak Banteng Dieng. Setelah istirahat dan melapor ke base camp, sehabis mahgrib kami mulai perjalanan menuju puncak, sebelumnya mampir ke angkringan di dekat basecamp untuk membeli sego kucing dan gorengan plus air panas sebagai bekal perjalanan. Menysuri rumah penduduk dan tangga adalah track pertama yang harus kita lewati, setelah itu hamparan perkebunan tanaman khas pegunungan seperti kentang dan lain2 menjadi teman kita berjalan. Gunung Prau ini mempunyai 4 Pos, setelah pos 1 kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan makan perbekalan yang kami bawa, malam itu cuaca sangat cerah, bulan bersinar dengan terangnya dan dibawah sana terlihat kerlap kerlip lampu rumah penduduk, dan juga gunung Sindoro dan Sumbing terlihat cukup jelas. Setelah berjalan yang cukup santai kurang lebih selama 3jam kita pun sampai di puncak gunung Prau, setelah mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda, karena dipuncak sudah ada beberapa tenda berdiri, tidak kebayang kalau kita kesini pas akhir pekan, pasti akan susah untuk mencari tempat mendirikan tenda, karena gunung Prau ini kan lagi ngeHitz hehehe, setelah tenda berdiri saatnya untuk melepas lelah dan menikmati kopi, menjelang tengah malam kabut mulai turun dan pendaki yang muncak semakin banyak. Menjelang pagi kabut tak kunjung menghilang, dalam hati wah ngak bakal dapat lihat sunrise ini, namun Alhamdulillah saya dapat menyaksikan munculnya sang surya dari ufuk timur, walapun cuma sebentar dan kabut kembali turun namun itu tidak mengurangi rasa kagum saya akan keindahan sang Maha Oke hehehe… tidak lama kemudian kami packing karena siang hari Tejo kembali ada agenda di Jogja, kami berkemas dan turun kembali ke basecamp, perjalanan turun lebih cepat dari pada naik, ngak sampe pukul 10 pagi kita sudah sampai di base camp, setelah melapor dan sejenak melepas lelah kami pun langsung tancap gas kembali ke Jogja.

Wednesday, 15 October 2014

RWK Budaya


Untuk ke tiga kalinya saya dan teman-teman dari RWK ( Remaja Wijaya Kusuma) di Pedukuhan Kalirandu akan ikut meramaikan Festival Kethoprak dalam rangka Gelar Budaya Desa Bangunjiwo yang berlangsung mulai tgl 15-18 Oktober 2014. Kelompok saya dari RWK Budaya mendapat jatah tampil pada tgl 16 Oktober 2014 main pada jam pertama atau jam 20.00 WIB, walaupun ini besok menjadi penampilan ke tiga kalinya dan lakon atau judul yang dibawakan sama pada penampilan sebelumnya, sayapun memerankan tokoh yang sama namun bagi saya pribadi tetap saja menimbulkan perasaan grogi maklum bukan seniman panggung betulan hehehe Persiapan pertunjukan kethoprak ini juga dibilang cukup singkat, dengan latian kurang lebih 1,5bln dan 2x dalam seminggu dan juga waktu latihan yang kurang maksimal menjadi tantangan tersendiri, maklum para pemain kethoprak dari RWK Budaya ini hampir 90% anak muda dan dengan basic yang berbeda-beda jadi ya harap maklum, mereka sudah mau ikut berlatih dan ikut nguri-uri atau melestarikan salah satu kesenian tradisional Jawa saja sudah bagus dan harus di apresiasi, disini dalam bermain kethoprak kita bisa menjadi siapa saja yang tentu saja itu bukan diri kita, itu salah satu pon yang dapat kita petik.

Lakon dalam penampilan kali ini adalah “Ngundhuh Wohing Pakarti” maksudnya dalam bahasa Indonesia adalah apa yang kita tanam itulah yang bakal kita petik, siapa yang menanam kebaikan maka akan memperoleh balasan kebaikan juga, begitu sebaliknya. Tertarik dan penasan dengan jalan ceritanya? Silahkan besok malem datang ke Balai Desa Bangunjiwo untuk menyaksikan Kethoprak Mataram persembahan dari RWK Budaya hehehe….
kita terakhir tampil juga sudah dua tahun yang lalu, ya semoga saja penampilan besok malam bisa berjalan dengan lancar dan sukses, dan yang pasti bisa menghibur para penonton yang datang menyaksikan pertunjukan amin.

statistics

dwitoro

sebagian kecil cerita hidup saya

Subscribe

Recent

Comment

Gallery

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Follow us on FaceBook

About

Powered by Blogger.

Popular Posts