Tuesday, 6 October 2015

Jogja Rolling Scoots

Sabtu malam langit berbintang
Waktunya tuk turun kejalan
Dan kuasai seluruh kota
Rapatkan barisan hey kawan
Jangan sampai kau ketinggalan
Jangan sampai kau kehilangan jalan…
     Petikan lirik lagunya Shaggy Dog yang berjudul Scooter Boys tersebut sepertinya tepat mengambarkan suasana sabtu malam 3 okt 2015 kemarin, untuk pertama kalinya saya ikut teman dikampung saya rolling pake Vespa keliling Kota Jogja dalam acara Jogja Rolling Scoots acara berkumpulnya anak-anak Vespa di Kota Jogja. Sebenernya ngak sengaja sih saya ikut, karena saya juga ngak tau jadwalnya juga, Cuma kebetulan kemarin pas ada pertemuan karang taruna dikampung teman saya bima tri dan bima ngobrol kalau mau rolling vespa gitu, karena penasaran saya pun ikut.
     Rapat belum ditutup dan kamipun mbolos duluan karena mau rolling vespa, kebetulan juga saya dapet sms dari teman saya yang mau datang kerumah mbahas piknik karena keesokan harinya saya ada jadwal piknik ke kebumen, walaupun pada akhirnya saya ndak jadi ikut piknik hehehe lha baru sekitar 3 minggu yang lalu saya berkunjung di tempat yang sama. Setelah urusan dengan teman saya beres saya bergegas untuk keluar rumah karena sudah ditunggu saya teman saya Tri Sartono. Kamipun melaju kearah utara untuk nyamperin Bimo dan Imam yang sudah menunggu di pertigaan diujung kampung saya. Tanpa basa-basi kitapun melaju membelah kemacetan sabtu malam di kota Jogja.
     Setelah isi bensin di SPBU jl. Tamansiswa kita langsung menuju Balai Kota, disana sudah berkumpul ratusan atau bahkan ribuan motor vespa dengan berbagai type dan aliran modifikasi semua kumpul menjadi satu. Setelah nongkrong beberapa saat, satu per satu rombongan mulai jalan untuk rolling tak lama berselang teman sekampung saya yang berangkat duluan ke balkot nya yaitu Endro bergabung juga dengan kita, jadi ada 3 vespa yang dalam rombongan saya, setelah itu kamipun ikut rolling membaur dengan rombongan yang lain. Rute rolling malem itu dari balkot keselatan melewati jalan Kusumanegara ketimur sampai perempatan Gedong Kuning ke utara melewati depan JEC sampai perempatan blok O ke utara melewati fly over janti terus kebarat melewati jalan Laksda Adi Sutjipto kebarat terus melewati pertigaan UIN terus menuju jalan Urip Sumoharjo dan masih lurus terus kebarat menuju Jalan Jenderal Sudirman hingga sampai perempatan Tugu Jogja, belok kiri menuju jalan Margo Utomo sampai sini rombongan sudah mulai terpecah ada sebagian yang mampir nongkrong ada juga yang langsung pulang, sepanjang perjalanan tadi juga banyak bertemu dengan rombongan rolling dari komunitas sepeda motor lain, karena mungkin malem minggu ya jadi banyak juga komunitas-komunitas sepeda motor yang lain yang juga mempunyai agenda yang sama yaitu kumpul dan rolling.
suasana di Balkot sebelum rolling

     Oke lanjut lagi perjalanannya tadi, dari jalan Margo Utomo melewati jembatan Kleringan dan menuju Jalan Malioboro, sebenarnya pengen mampir nongkrong di Jalan Malioboro, namun karena ngak ada tempat yang strategis untuk nongkrong maka kamipun jalan terus, rencananya pengen nongkrong di Alkid, namun sebelum nongkrong di alkid pengen cari minum dulu, akhirnya mampir Indonmart di jalan Brigjen Katamso, sambil istirahat dan minum, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 01.30 pagi, dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang dan ngak jadi nongkrong di Alkid. Itulah pengalaman pertama saya ikut jogja rolling scoots. 

Thursday, 1 October 2015

Bibis Enduro Race!

     Beberapa bulan terakhir ini Puncak Bibis menjadi salah satu tempat favorit para Goweser di Jogja dan sekitarnya, hampir setiap akhir pekan warung bubur bu Yati yang dijadikan tempat berisitirahat selalu rame dikunjungi para goweser setelah melahap tanjakan Bibis, ya walaupun puncak Bibis relatif cukup dekat dari rumah saya tapi saya malah belum pernah sama sekali mampir ke warung bubur nya bu Yati, hingga tadi pagi Ahad 27 September 2015 saya bersama teman SMP saya dulu Agus mampir ke warung tersebut. Sebenernya tujuan utama saya bukan untuk mencoba bubur nya Bu Yati, namun pengen mencoba track Bibis Enduro ya sebuah ajang balapan ketahanan fisik dengan rute blusukan di daerah Bibis dan juga daerah Pajangan. Lomba itu sendiri rencananya akan di laksanakan besok tanggal 3-4 Oktober 2015, dengan berbagai katagori kelas, namun karena saya masih pemula jadi ya belum berniat untuk ikut lomba tersebut.
     Rencana untuk mencoba track tersebut sebenernya sudah dari beberapa waktu yang lalu, namun karena belum pernah nyoba dan waktu itu juga petunjuk arahnya juga belum jelas dan juga waktu luang yang belum ada maka belum terwujudlah keinginan untuk mencoba track tersebut, hingga minggu kemarin waktu ikut jelajah Sepeda Tahura di rest area hutan Bunder Gunung Kidul yang kebetulan juga bareng sama si Agus maka saya ajak dia untuk mencoba track Bibis enduro, kebetulan rumah Agus ini juga daerah Pajangan yang dilalui jalur blusukannya dan dia juga sudah beberapa kali mencoba jadi aman deh ngak akan nyasar. Singkat cerita sabtu pagi kemarin saya wasapp Agus ngajakin untuk mencoba track tersebut karena kemarin janjinya sehabis Lebaran Idul Adha, namun karena sabtu kemarin Agus lagi ada acara di Gunung Kidul maka dia ngajak Ahad pagi, oke karena saya juga ngak ada acara maka saya iya kan saja.
     Pagi itu pukul 06.00 pagi saya berangkat menuju ke Gapura perbatasan Desa Wisata Krebet yang menjadi meet point saya untuk bertemu dengan Agus, dengan penuh semangat saya kayuh sepeda menuju kesana dan sampai sana Agus sudah menunggu, saya kira dia bersama teman-teman yang lain, ternyata dia juga cuma sendiri alhasil kita gowes Cuma berdua, setelah say hello kita lanjutkan gowes ke titik start Bibis Enduro yaitu di depan warung bubur bu Yati, sekalian sarapan bubur terlebih dahulu, karena jarak dari Krebet menuju Bibis tidak terlalu jauh maka tak sampai 15 menit sampailah kita di warung bubur bu Yati, sampai sana sudah banyak para Goweser yang sudah tiba disana lebih dulu. Ya walaupun tadi dari rumah belum sarapan, tapi saya memilih untuk tidak makan bubur takut ntar muntah kalo dipake blusukan dengan rute yang naik turun, untung warung bu Yati tersebut juga menyediakan Telo godok dan gedang godok wah cocok banget ini salah satu makanan favorit saya plus minumnya teh gulo batu, maka nikmat Tuhan mu manakah yang kamu dustakan hehehe, pagi itu ternyata panitia Bibis Enduro Race melakukan uji coba penghitungan waktu untuk persiapan lomba, namun saya sama Agus tidak ikut, kita memilih untuk start duluan dan gowes sak tekane, setelah menghabisan makanan dan istirahat sejenak sekitar pukul 07.00 pagi kami memulai gowes untuk menelusuri rute Bibis Enduro, rute yang kita lewati sangat beragam, mulai jalan aspal, jalan cor blok, jalanan tanah hingga jalanan berbatu, tanjakan dengan kemiringan yang lumayan jahanam hingga turunan yang curam juga ada, dan saya yakin walaupun sudah ada petunjuk jalannya, kalau saya kemarin ngak sama Agus pasti saya kesasar. Singkat cerita karena ini baru pengalaman pertama saya mencoba rute tersebut, kami memutuskan untuk potong kompas dan tidak full mengikuti jalur Bibis Enduro hehehe, dari total jarak keseuluruhan sekitar 20 Km an, kami kemarin cuma menempuh jarak 11,8 Km tapi itu juga sudah lumayan untuk mengencangkan kaki. Mungkin itu dulu cerita tentang pengalaman saya mencoba track Bibis Enduro yang sakira belum bisa memberi gambaran karena memang susah untuk digambarkan dan lebih assik untuk dicoba :D  




       

Sunday, 27 September 2015

Affandi Alive!

Setelah selesai nonton Taher Ujian Tugas Akhir Karya Seni dan sebagian teman-teman yang datang juga sudah pada pulang, saya ngajak habib yang kebetulan tadi datangnya telat untuk melihat Gramedia book fair di Lippo Plaza Jogja sekalian liat-liat mall baru tersebut, karena memang belum pernah kesana,setelah membelah kemacetan demangan akhirnya sampai juga di Mall baru tersebut, ya bangunan ex. Saphir square tersebut kini telah berganti nama menjadi Lippo Plaza Jogja, setelah memarkir sepeda motor hal ini terulang lagi setiap kali datang mall baru, yups bingung mencari lift buat masuk, dan akhirnya saya naik lewat tangga darurat dan masuk lewat pintu sebelah barat, ketika masuk mall tersebut menurut saya interiornya cukup bagus, dan seingat saya memang berubah drastis dari bangunan interior jaman Saphir Square dulu. Oke sesuai tujuan saya tadi yaitu pengen liat-liat buku di gramedia maka langkah kaki saya tujukan ke area gramedia book fair tersebut, setelah cukup lama melihat-lihat buku dan belum ada yang membuat saya khilaf untuk membelinya maka saya putuskan untuk berkeliling mall terlebih dahulu sekalian meliha-lihat ada apa aja di dalam mall tersebut.
Setelah berkeliling dan sempat berhenti di depan bioskop untuk melihat-lihat karena teman saya habibi tersebut termasuk orang yang maniak film, setelah itu kami kembali turun dan baru teringat kalau di dalam mall tersebut ada suatu tempat untuk menaruh karya Affandi, karena binggung tempatnya disebelah mana maka saya suruh habibi untuk tanya ke security mall dan akhirnya mendapat penjelasan tentang dimana tempat itu berada, tempat tersebut bernama Affandi Alive! Karena ngak tau si habibi mau langsung masuk aja, ternyata masuknya pake tiket hehehe setelah tanya HTM nya yang ternyata hanya Rp. 10.000 cukup murah untuk melihat karya-karya salah satu Maestro seniman lukis di Indonesia, setelah mengisi nama dan alamat pada tiket dan saya juga sempat bertanya pada bapak yang menjual tiket tersebut apakah lukisan yang di dalam tersebut merupakan lukisan asli dari Affandi atau Cuma replika? Dan si bapak tersebutpun menjawab bahwa lukisan tersebut asli dan merupakan lukisan koleksi si pemilik Lippo bahkan lukisan tersebut ada yang di datangkan dari Brasil karena sudah dimiliki oleh kolektor di Brasil, karena saya kira lukisan-lukisan tersebut diambil dari koleksi museum Affandi yang berada di Jogja ternyata tidak.
Selesai mengisi biodata di tiket kami pun masuk, didalam museum tersebut terdapat karya Affandi dan juga istrinya Maryati, museum tersebut menyimpan karya lukisan Affandi sebanyak 26 buah lukisan yang terbagi menjadi 3 tema besar yaitu potret diri, topeng serta Affandi dan keluarga. Tata ruang museum tersebut juga cukup bagus dengan pencahayaan yang bagus juga, ya ngak perlu dipertanyakan yang punya mall merupakan grup pengusaha properti yang cukup kondang di Negeri ini dan juga kolektor seni maka dalam membuat suatu ruangan untuk menaruh koleksi yang harganya milyaran ya pastilah dibuatkan tempat yang well, namun cukup disayangkan untuk karya sekelas Affandi caption keterangan lukisan yang ada di dalam museum tersebut Cuma kertas HVS biasa yang diprint keterangan judul karya, ukuran, media dan tahun lukisan tersebut dibuat, untuk informasinya sih cukup oke, namun alangkah lebih bagusnya lagi kalo kertas nya ngak cuma HVS putih biasa, mbok di bikin yang lebih mewah sedikit, oh iya walaupun diluar ada tanda kamera disilang yang berarti tidak boleh memotret tapi ternyata kami kemarin diperbolehkan untuk foto didalam ruang museum tersebut, ya memang kadang dibeberapa museum ada yang tidak memperbolehkan pengunjung untuk mengambil gambar yang menjadi koleksi di museum tersebut. Dilobby museum tersebut juga terdapat beberapa kursi dan buku bacaan sepertinya untuk ruang tunggu pengunjung jika pengunjung terlalu banyak, namun saya juga kurang tau pasti berapa batasan maksimal orang yang ada didalam ruangan museum tersebut.

Secara keseluruhan hadirnya museum didalam mall ini merupakan terobosan yang bagus dan layak untuk di apresiasi, jadi kita ke mall bukan hanya untuk sekedar jalan-jalan atau nonton di bioskop namun juga dapat mengunjungi dan menyaksikan karya-karya dari salah satu seniman besar yang pernah ada di Indonesia yaitu Affandi, semoga juga keamanan museum tersebut juga terjamin aman, sehingga tidak ada lagi pencurian-pencurian karya seni. Oh iya alangkah lebih baiknya lagi kalau mall tersebut juga menyediakan ruang gallery sebagai tempat para seniman untuk berpameran kan keren tuh kita nonton pembukaan pameran di dalam mall hehehe.   
suasana di dalam museum Affandi Alive!

Salah satu karya Affandi yang ada di Affandi Alive

Wednesday, 23 September 2015

Street Art Jogja

     Pagi ini Kamis, 24 September 2015 yang juga bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Adha 1436H yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, namun karena saya sholat Ied nya kemarin sesuai dengan Maklumat Muhammadiyah maka pagi ini tadi saya putuskan untuk Gowes, semalem sih rencananya pengen liat Grebeg Idul Adha di Alun-alun Utara, namun karena sampai alun-alun tadi pagi baru sekitar pukul 07.15 saya pikir terlalu lama jika harus nunggu sampai jam 10.00 pagidan nanti pulang juga sudah terlalu panas di jalan, maka tujuan sayapun bergeser untuk berburu grafiti yang ada di tembok-tembok di pinggir jalan kota Jogja ini. Dari alun-alun utara laju sepeda saya arahkan ke TBY, karena di gang depan TBY banyak terdapat Grafiti dan juga di sepanjang jalan Mayjend Suryotomo sampai jalan Mataram, begitu banyak grafiti dari berbagai boomber yang ada di Jogja ini.

Bagi sebagian orang gambar-gambar grafiti tersebut menganggu dan merusak sehingga disebut sebagai sebuah Vandalisme, ya kalau tidak ada ijin dari sipemilik tembok dan merusak vasilitas umum itu merupakan bentuk sebuah vandalisme kalau menurut saya, namaun kalau si pemilik tembok sudah mengijinkan makan gambar grafiti tersebut menjadi sebuah karya streetart yang enak dipandang, coba bayangkan jika tembok-tembok tersebut Cuma di cat dengan warna polos putih gitu aja pasti Cuma jadi biasa aja ngak ada seninya dan ngak ada orang yang mau sejenak berhenti untuk menatap tembok tersebut. Dari jalan Mataram laju sepeda saya arahkan ke seputaran Stadion Kridosono, karena tembok yang mengililingi stadion tersebut juga dihiasi oleh gambar grafiti dan selama ini kalo lewat jalan tersebut pengen berhenti dan berfoto dengan background gambar-gambar grafiti tersebut, namun setelah saya amati grafiti yang ada di stadion Kridosono ini merupakan grafiti hasil lomba, itu terlihat dari tulisan yang hampir sama dan sepertinya menjadi tema dalam lomba tersebut. Setelah mengitari stadion kridosono perjalanan kembali saya lanjutkan menuju jembatan kali code, ini juga untuk kali pertama saya mampir berhenti dan berfoto diatas jembatan kali code tersebut, setelah memotret kawasan kampung code yang di cat warna-warni oleh salah satu perusahan rokok perjalanan saya lanjutkan kembali dan tujuan selanjutnya adalah rumah karena matahari juga semakin terik dan memang sudah tidak ada tujuan lain lagi maka saya putuskan untuk kembali kerumah, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam saya bisa menikmati gowes plus grafiti yang ngak bisa saya nikmati ketika saya membawa motor. Dibawah ini ada beberapa gambar grafiti dari jepretan kamera Hp saya, dan tentu saja masih banyak grafiti lain di kota Jogja ini yang ngak kalah bagusnya dari grafiti yang saya foto tersebut. 





Sunday, 30 August 2015

Pemburu Quiz

     Pemburu Hadiah, atau Pemburu Quiz? Emm keduanya memang ngak ada yang tepat sepertinya, karena semua hanya kebetulan dan beruntung, ya kali ini saya akan membahas beberapa Quiz berhadiah yang pernah saya dapatkan, bukane pamer ya Cuma share aja kali aja ada pengen ikutan, saya mengenal quiz dulu kurang lebih bersamaan pada saat awal mengenal twitter sekitar Tahun 2010an ya sekitar 5 tahun yang lalu, apa sudah 5 tahun? Kok followernya ngak nambah-nambah? Ya maklumlah sa kan bukan selebtwit hehehe. Dulu awalnya ikutan Quiz dari @PlatJogja kalo ngak salah, hadiahnya pun cukup sederhana pulsa 10rb bro ngambilnya di Jakal sana, tapi waktu itu sekalian ngampus sih jadi ya lumayanlah, dari akun tersebut saya sudah dapat sekitar 3x kalo nga salah. Dan selanjutnya pemasok hadiah paling banyak yaitu dari dua akun twitter dua stasiun radio di Jogja, ada Geronimo FM dan juga JIZ FM, saya cukup sering dapet hadiah dari kedua stasiun Radio tersebut karena memang sering mengadakan Quiz sih ya, Mulai dari tiket nonton, kaos dari sponsor, paket godiebag, voucer distro, hoodie, dll. Selain itu saya juga pernah dapet hape, iye hape bro, dari @EsiaJogja kalo itu, waktu itu juga pertanyaannya juga simple dan saya jawabnya juga asal aja, eh alhamdulillah dapet kalo emang udah rejeki ngak bakal kemana ya.
     Terus saya juga pernah dapet hadiah buku dari bang @pandji itu juga pas dia interview di Radio Geronimo dan saya beruntung mendapatkan buku Merdeka Dalam Bercanda walaupun kini buku nya sudah tak kasih sama mantan calon gebetan duh,. Terus juga pernah dapet sepatu dari dezle waktu itu yang ngadain quiznya mas @anangbatas dan @SelosoSelo akun stand up comedy, waktu itu pertanyaan nya seputar Ngayogjazz dan alhamdulillah sa beruntung dapet sepatu tersebut, terus juga pernah dapet Kaos merchendaise band, dari band SeuriueS dan juga Jamphe Jhonson, seneng banget tu waktu dapet kaos nya SeuriueS Tidak Bubar, secara sa ngefans juga sama itu band, Jamphe Jhonson lagu-lagu nya juga asik lho, eh ada satu lagi ding hadiah kaos band, kalo ini sa dapet dari radio Jiz Fm, ngak langsung dari band nya, kalo yang ini sa malu make nya hahaha lha dari band Vaget*z hehehe.
     Selanjutnya dari mana lagi ya, owh iya yang belum lama ini ya, selain dari radio Geronimo Fm dan juga JIZ Fm, kemarin juga dapet dari Bantul Radio dan juga Radio Q, kalo yang dari Bantul Radio sudah saya ceritakan kemarin dapet voucer mobil dari Aselia yang sa pake buat mbolang ke Sikunir, nah kalo dari Radio Q ini baru pertama kalinya saya dapet, karena baru pertama kali dapet saya sempet binggung nyari kantornya, namun kebetulan ada temen saya yang juga dapet dari radio tersebut, dan saya tanya ancer-ancernya dan akhirnya ketemu juga dan lumayan dapat voucer 100rb dari batik Terang Bulan. Kurang lebih seperti itu beberapa hadiah yang pernah saya dapet, namun sepertinya lebih deh karena cukup banyak, dan jangka waktu sekitar 5 tahunan ini kan ya cukup lama, oke sekarang saya mau kasih tips ini buat dapet hadiah ala pemburu hadiah hehehe
1. Bagi kalian penguna twitter followlah akun-akun twitter radio di kota anda, karena biasanya stasiun radio tersebut sering ngadain Quiz, ya walaupun ngak semua sih
2. Nah ketika salah satu akun tersebut ngadain Quiz, pantaulah kalau sekiranya peraturannya ngak ribet dan yang ikut ngak banyak, maka ikutlah karena peluang menangnya besar, walaupun hadiahnya kecil ngak masalah yang penting dapet hadiah dan ngak ribet
3. Berusaha dan berdo’a, nah setelah berusaha dengan mengikuti aturan yang diadakan oleh penyelengara maka tugas kita tinggal berdo’a mudah-mudahan kita yang dapet tuh hadiah, kalo memang belum beruntung ya anggep saja belum rejeki kita bro

Ya mungkin itu saja tipsnya, selamat mencoba dan berburu semoga keberuntungan selalu menyertai kita amin, dan terimakasih buat semua yang pernah memberi kepada saya hadiah :)    

Thursday, 27 August 2015

Jembatan Cinta Kali Progo

Karena dari kemarin kepengen gowes dan ngak ada teman yang mau saya ajak gowes, maka tadi pagi kamis, 27 Agustus 2015 saya berangkat sendiri sekalian untuk melampiaskan rasa kecewa saya setelah hari minggu kemarin gagal mengikuti event Nglanggeran Mountain Bike karena ahsudahlah… Berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 wib dengan mengambil rute melewati desa wisata Krebet terus keselatan perempatan Beji keselatan dan melewati turunan yang cukup curam namun mengasikan sampai ketemu jalur alternatif Sedayu-Pandak, terus belok kanan karena tujuan saya ingin mengunjungi sesek atau jembatan dari bambu yang membentang diatas aliran kali Progo di daerah Mangir, Pajangan. Karena cuma sendiri maka kayuhan sepeda saya juga Cuma sante sak tekane, toh hari ini juga selo.
setelah melewati polsek Pajangan saya ambil kiri masuk jalan kampung menuju Desa Mangir, saya sudah cukup hafal dengan jalur ini karena dulu sudah pernah gowes sampai daerah sini, kalau dulu tujuannya ke Ngancar yaitu tempuran antara kali Bedog dengan kali Progo, selain itu juga mengunjungi petilasan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Oke setelah melewati lika liku jalan kampung yang cukup ngronjal akhirnya sampai juga di jembatan penyeberangan yang terbuat dari bambu tersebut, untuk menemukan jembatan tersebut juga cukup mudah karena ada papan petunjuk untuk menuju Kulon Progo, niat awalnya sih Cuma pengen motret terus putar balik lagi, namun setelah bertanya pada bapak yang menjaga sesek tersebut untuk menuju sesek yang tembus didaerah dekat lapangan sendangsari jauh tidak, dan kata bapaknya tidak jauh maka kuputuskan untuk menyeberangi jembatan tersebut dan melanjutkan gowes di daerah Kulon Progo, dengan membayar Rp.2000 untuk sekali lewat, saya sebrangi jembatan tersebut, namun karena tidak ingin melewatkan moment, dan kebetulan ditengah jembatan juga ada tempat yang sepertinya dipake buat transit kalo berpapasan di atas jembatan, maka saya berhenti sejenak disitu untuk sekedar berfoto, kebetulan juga ada seorang bapak yang sedang merapikan potongan-potongan bambu yang disusun menjadi jembatan tersebut, sambil basa-basi dengan bapak tersebut saya minta tolong untuk difotoin oleh bapak tersebut hehehe, dan dari hasil basa-basi tersebut saya juga jadi tau kalau ternyata jembatan sesek tersebut ternyata milik pribadi, bisa dibayangkan to berapa penghasilan yang di dapat setiap harinya karena orang yang lewat juga cukup banyak.
Seorang ibu yang sedang menyeberangi Jembatan Sesek Mangir
Setelah menyeberangi kali Progo saya sudah berada di Kabupaten Kulon Progo ini, dengan melewati jalanan kampung yang cukup teduh dan juga aktifitas warga di pagi hari cukup membuat pikiran ini tenang, setelah melewati jalanan kampung, akhirnya ketemu juga jalan aspal walaupun dulu pernah main bola di daerah sini, namun saya lupa jalan untuk menuju jembatan sesek nya sebelah mana? Akhirnya saya bertanya pada bapak-bapak paruh baya yang sedang nongkrong dipinggir jalan, dan setelah mendapat info dari GPS (Gunakan Penduduk Setempat) tersebut saya lanjutkan perjalanan, dan sampailah ke jembatan sesek yang kedua, oh iya sekedar info jadi jembatan sesek di wilayah Pajangan ini terletak di beberapa titik, setau saya ada 3 yang pertama di daerah Ngantru, atau belakang Gereja Pajangan / Selatan Sabo Dam Pajangan, yang kedua ada di selatan Lapangan Kamijoro ini, dan yang ketiga ada di Desa Mangir tadi. Jembatan ini sangat vital bagi warga yang tinggal di daerah Kulon Progo ataupun Bantul, dengan adanya jembatan sesek ini warga tidak perlu menempuh jarak yang cukup jauh yakni menuju Jembatan Srandakan ataupun Jembatan Bantar yang ada di Jalan Wates. Di jembatan sesek sendangsari ini lalulintasnya relatif lebih ramai dibanding jembatan sesek yang di mangir tadi, kanan kiri jembatan juga banyak penambang pasir yang beraktivitas, terus akses menuju jalan aspal juga tidak sejauh yang di mangir tadi.
sebagai jalan alternatif, jembatan sesek Sendangsari ini cukup penting keberadaannya

Setelah memotret aktivitas di jembatan dan disekitar jembatan saya melanjutkan perjalanan kali ini saya memilih utuk melewati tanjakan Kamijoro, walaupun panjang, namun saya kira lebih manusiawi dibanding lewat jalur makam sewu tadi, setelah kurang lebih 2jam perjalanan akhirnya sampai rumah kembali, sebuah perjalanan yang menyenangkan, dan membuat ketagihan untuk kembali menyusuri pinggir kali Progo. Salam Gowes!        

Wednesday, 26 August 2015

Pasar Kangen Jogja 2015

    Alhamdulillah laptop ku rasido mati,setelah kemarin sempet panik karena laptop tiba-tiba mati saat saya pake buat ngambar, dan sempet saya bawa ketempet temen saya dan dibongkar oleh dia katanya yang sakit chipsetnya, dan dia tidak bisa membetulkan maka pasrahlah saya, namun tak disangka ini tadi sebelum saya bawa ketempat service yang lebih mumpuni laptop coba saya nyalakan dan Alhamdulillah bisa menyela kembali hehehe mungkin laptop saya lelah dan butuh istirahat total.
suasana Pasar Kangen Jogja
   Oke ada beberapa hal yang ingin saya share ni, yang pertama tentang salah satu agenda tahunan yang diadakan di D.I.Yogyakarta yaitu Festival Kesenian Yogyakarta (FKY27)event yang mulai dibuka pada 25 Agustus 2015 kemarin, namun karena saya belum sempat mengunjungi event tersebut jadi saya belum bisa memberikan review nya, lho lha terus? Saya mau menceritakan event yang ngak kalah seru dari FKY yaitu Pasar Kangen Jogja, event yang juga rutin digelar tiap tahun ini juga menarik untuk kalian kunjungi. Namun walaupun acara pasar kangen Jogja ini rutin digelar setiap tahunnya tadi malam itu merupakan kali pertama saya mengunjungi event tersebut hehehe (kemane aje lu dab?). Oke sesuai dengan namanya Pasar Kangen Jogja ini menawarkan dagangan tempo doloe yang ngak mungkin sudah mulai langka dan tidak bisa kita jumpai setiap hari.

    Dagangan yang di jual di event Pasar Kangen Jogja ini sangat bervariasi mulai dari kuliner hingga barang klithikan, bahkan ada juga dagangan yang saat ini lagi ngetrend apalagi kalo bukan batu akik. Event yang digelar di Halaman Taman Budaya Yogyakarta ini masih akan berlangsung hingga 30 Agustus 2015 nanti, dan buka mulai pukul 10.00-22.00 wib, selamat berkunjung dan jangan lupa jajan ya bawa sangu duit yang banyak.  

statistics

dwitoro

sebagian kecil cerita hidup saya

Subscribe

Recent

Comment

Gallery

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Follow us on FaceBook

About

Powered by Blogger.

Popular Posts