hey guys uda 2017 aja ni, udah lama ternyata ngak ngepost di blog. oke langsung aja ya ke pokok pembahasan, bagi kalian yang sering nonton film di bioskop kalian pasti punya tempat duduk favorit untuk menikmati film, bukan untuk mojok lho ya wes ra jaman mojok ne bioskop bro. untuk menikmati sebuah film di bioskop selain jalan cerita dari film tersebut, tempat duduk juga menjadikan salah satu faktor untuk menikmati film dengan khimad. tentu tak terbayang bukan jika kita nonton film komedi favorit, namun karna saking penuhnya kursi dan kita kebagian duduk di kursi paling pojok di depan sendiri pula, saya jamin keluar dari bioskop leher dan kepala anda akan tengeng setengah modyar.
Dengan posisi yang demikian tentu saja akan mengurangi ke khusyukan anda dalam menikmati film favorit anda, seperti pengalaman yang pernah saya rasakan ketika booming film AADC 2 kemarin, karna waktu itu juga dadakan alhasil asal antri aja, dan dapet kursinya juga di depan, baris kedua dari depan kalau ngak salah waktu itu, alhasil kepala ndangak terus sepanjang film di putar. tak ingin kejadian itu terjadi lagi maka sejak saat itu saya putuskan untuk top up kartu member di salah satu bioskop di kota Jogja ini, secara sekarang di Jogja banyak tumbuh mall baru bak jamur lethong di musim hujan jadi ngak usah bingung untuk milih dimana kamu mau nonton, dengan harga yang bervariatif pula, ngak kayak dulu bioskop cuma di pegang oleh kelompok selikuran.
duh malah merembet kemana-mana ini, ayo kembali ke topik utama yaitu tempat duduk favorit. oke saya jelaskan dalam menikmati sebuah film selain posisi mata yang pas, posisi telinga juga harus pas untuk mendapatkan suara stereo yang pas di telingga. dan untuk mendapatkan sensasi seperti itu saya sarankan anda untuk memilih kursi di baris C-F di rentang baris tersebut anda akan mendapatkan kenyamanan dan kekhusyukan dalam menikmati sebuah film baik dari sisi visual ataupun audio, seperti yang pernah saya rasakan saking khusyuknya saya sampai tertidur saat nonton film dan akhirnya keliwatan jalan ceritanya.
Sunday, 26 February 2017
Wednesday, 20 July 2016
Melihat Panorama Rawa Pening dari Eling Bening
Salah satu tempat wisata yang lagi
ngehitz di daerah Ambarawa yaitu Kawasan Wisata Eling Bening, terletak didaerah
pegunungan sehingga memiliki hawa udara yang cukup sejuk dan view pemandangan
yang bagus antara rawa pening dan gunung Telomoyo. Tempat ini dapat ditempuh
dalam waktu kurang lebih 2 Jam dari Jogja akses jalan untuk menuju ke tempat
ini juga cukup mudah, sudah banyak papan petunjuk arah untuk sampai ke tempat
ini. Biaya restribusi untuk masuk ke Kawasan ini Rp. 15.000 biaya yang cukup
murah andai saja kita bisa sekalian berenang disana, tapi kemarin kolam renang
yang bagian bawah masih dalam proses pembangunan.
![]() |
| view rawa pening dari salah satu sudut di Eling Bening |
Kawasan wisata Eling Bening ini selain
menyajikan pemandangan yang memanjakan mata juga menyediakan berbagai fasilitas
lainnya, seperti camping ground, out bond, gathering dll. Sepertinya konsepnya
hampir sama dengan kawasan Umbul Sido Mukti yang view nya juga hampir sama,
Cuma lebih tinggi lagi tempatnya kalau di umbul sido mukti. Jika kalian sedang
melewati Ambarawa entah perjalanan dari Jogja menuju semarang atau sebaliknya
bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke tempat ini. Karena banyak tempat
wisata menarik di Ambarawa yang layak kalian jadikan destinasi wisata.
Sunday, 19 June 2016
Puncak Gantolle Waduk Gajah Mungkur
Butuh waktu kurang lebih dua jam
perjalanan yang saya lakukan untuk mencapai tempat ini dari kota Jogja, bukit
gantole atau paralayang yang terletak di dekat Waduk Gajah Mungkur Wonogiri
Jawa Tengah. Sebenarnya kalau Cuma mau liat landasan gantole tidak perlu
jauh-jauh sampai Gajah Mungkur Wonogiri, di daerah Parangtritis juga ada. Berhubung
saya sudah pernah mengunjungi yang di Parangtritis maka saya mencoba mengunjungi
yang di Wonogiri, owh iya di Puncak gunung Telomoyo Magelang juga ada landasan
buat lepas landas Gantolle. Oke kembali kita bahas gantole yang saya kunjungi
kemarin yang ada di Wonogiri, kemarin saya berangkat dari Jogja sekitar pukul 2
siang sengaja berangkat siang hari biar pas dilokasi dapet momen menjelang
sunset dan cahaya matahari sudah cukup redup dan bagus buat foto-foto. Perjalanan
berangkat saya via jalan Jogja-Wonosari dan belok kiri di pertigaan sambipitu
mengikuti jalan arah ke Ngawen jalan relatif sepi dan cukup mulus hingga sampai
daerah Semin saya sempat kesasar, mengandalkan GPS di Hp ternyata susah sinyal
akhirnya pake GPS manual, Gunakan Penduduk Setempat akhirnya dapat pencerahan
dan kembali saya temukan jalan yang benar untuk menuju Waduk Gajah Mungkur.
Setelah kurang lebih dua jam perjalanan
dengan jarak tempuh sekitar 100 kilometeran dan membuat bokong dan pundak cukup
pegel akhirnya terlihat juga air waduk gajah mungkur, untuk mencapai puncak
landasan gantole tersebut kita tinggal mengikuti jalan di pinggir waduk
tersebut, dan melewati gerbang kawasan wisata waduk gajah mungkur hingga nanti
disebelah kiri jalan ada Gapura yang bertuliskan Menara Filter Gantolle, kita
tinggal masuk aja kejalan tersebut, sebelum kesana pastikan kondisi kendaraan
anda dalam kondisi prima jika tidak mau menanggung malu lantaran ngak kuat
nanjak dan pasangan anda dengan terpaksa harus turun dari kendaraan dan jalan
kaki atau bahkan mendorong kendaraan anda. Karena tanjakannya cukup curam saya
kira lebih dari 70 derajat tingkat kemiringannya, berbeda ketika kita menaiki
puncak gunung Telomoyo, kalau disana kan jalannya dibuat melingkari gunung jadi
tanjakannya tidak cukup curam, kalau disini jalannya bener-bener curam, kemarin
aja sebenarnya kondisi motor saya sudah tidak terlalu fit, karena dijalan
beberapa kali rantai motor saya sempet lompat-lompat untung aja ngak sampai
lepas.
Setelah melewati tanjakan yang cukup
biadab akhirnya sampai juga di area parkir, ternyata sampai sana sudah cukup
banyak motor ya walaupun saya kesana pas weekday mungkin kalau weekend bisa
lebih rame lagi. Setelah memarkir kendaraan saya berjalan menyusuri tangga
untuk mencapai landasan yang ternyata aset milik TNI AU ini, dari atas landasan
kita disuguhkan landscape yang cukup ciamik namun sayang agak sedikit mendung
namun bentang waduk gajah mungkur masih dapat terlihat jelas, saya kira kalau
pas cerah gunung lawu pun akan terlihat dari sini. Sebenarnya didaerah waduk
gajah mungkur ini ada dua tempat landasan Gantolle, dan tempatnya lebih keren
yang satunya, namun karena sudah sore kami ngak sempet mengunjungi tempat yang
satunya. Setelah puas menikmati pemandangan dari atas landasan dan foto sana
sini dengan berbagai sudut pandang sayapun kembali turun, karena memang aturan
kunjungan di landasan gantolle ini hanya sampai pukul enam petang dan benar
saja sampai parkiran saya sudah terdengar adzan maghrib, dan tukang parkir udah
triak-triak memberi isyarat agar para pengunjung untuk segera turun. Mengunjungi
landasan Gantolle ini kita tidak dimintai restribusi biaya masuk, Cuma parkir
motor doang dua ribu rupiah sangat murah bukan?
![]() |
| view dari atas landasan Gantolle |
Setelah meninggalkan tempat parkir saya
baru sadar kalau jalan yang saya lalui itu gelap gulita dan kebetulan ndak ada
barengan waktu turun horotoyoh nek yo horror to, apalagi pas turunan tajam
tersebut ternyata ada kuburan juga, partner saya Novi udah ketakutan pengen
buruan sampai bawah, saya sebenernya juga takut, tapi saya mencoba tenang dan
tidak panik, saya lihat dari belakang juga ngak ada motor sama sekali, dan
akhirnya ketemu juga pemukiman warga dan membat hati cukup lega. Perjalanan pulang
saya tidak lewat Gunung Kidul, dan mencoba lewat Klaten dan kembali saya
dihadapkan dengan jalanan yang belum saya kenali bahkan hampir saja saya
menabrak tugu ditengah jalan, karena memang penerangan jalan yang cukup
terbatas, hingga akhirnya didaerah Klaten saya ketemu jalan yang dulu waktu
pulang dari Gedangsari Village melewati jalan tersebut. Akhirnya kita kembali
sampai Jogja dengan selamat kesimpulannya lewat Klaten sepertinya lebih dekat
dan lebih cepat, main disore hari memang lebih menyenangkan, namun perlu
diinggat jika kita mainnya kedaerah yang belum kita kenali medannya dan juga
jaraknya yang cukup jauh harus lebih berhati-hati lagi so tempat ini bisa kamu
jadikan untuk menghabiskan waktu sambil menunggu buka puasa atau agenda liburan
setelah libur lebaran nanti. salam aspal gronjal lur hehehe
Monday, 6 June 2016
Masjid Gede Mataram Kota Gede
![]() |
| Masjid Gede Mataram Kota Gede |
Marhaban Yaa Ramadhan tak terasa kita
telah kembali dengan bulan suci, bulan yang penuh rahmat, berkah dan ampunan
ini. Tahun ini puasa Ramadhan 1437H jatuh pada tanggal 6 Juni 2016. Kemarin ahad
5 Juni 2016 saya berkesempatan gowes ke daerah kota gede bersama partner gowes
sekaligus guiede si Atun karna rumah nya kota gede. Seperti yang kita ketahui
bersama bahwa Kota gede merupakan bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam dan
tentu saja saat itu turut andil dalam menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa dan
hingga kini menjadi Agama Mayoritas. Beberapa bangunan peninggalan kerajaan
Mataram Islam ini masih bisa kita lihat sampai sekarang seperti Masjid Gede
Mataram, Makam Raja-raja, Komplek Watu Gilang dan Pasar Gede. Menyusuri gang-gang
kecil di kampung Kota gede, membawa kita seperti menjelajah kembali ke masa
kejayaan Kerajaan Mataram Islam bangunan jaman dulu masih banyak dan kokoh
berdiri sampai saat ini, salah satunya yaitu Masjid Gede Mataram yang saya
kunjungi kemarin, Masjid in didirikan pada masa pemerintahan Raja Panembahan
Senopati pada tahun 1589 M, dan pernah terbakar pada tahun 1919 M, dan selesai
diperbaiki pada tahun 1923 M.
Bangunan Masjid Gede Mataram Kota gede
ini mengunakan atap berbentuk Tajug bertumpang tiga pada bangunan utama, dan
limasan pada bangunan serambi masjid. Disebelah selatan masjid terdapat Makam
Raja-raja Mataram, namyn sayang kemarin saya tidak sempat mengunjungi tempat
tersebut. Sebenernya sudah sejak bulan puasa tahun kemarin saya pengen
merasakan solat taraweh di Masjid Gede Mataram Kota gede ini namun belum
kesampaian, smoga tahun ini bisa menyempatkan untuk merasakan sholat disana. Setelah
selesai melihat masjid dari luar saya kembali lanjutkan gowes saya, tujuan
selanjutnya yaitu petilasan watu Gilang, watu gilang tersebut konon sebagai
tempat singgasana Raja Mataram Panembahan Senopati. Situs watu gilang ini
terletak disebelah selatan komplek Masjid dan Makam, batu tersebut terletak
didalam sebuah cungkup yang berukuran kurang lebih 3x4 meter, jadi tidak bisa
dilihat dari luar, kalau pengen melihat masuk kita harus mengundang juru kuncinya.
Cungkup watu gilang ini terletak ditengah jalan, dan dikelilingi oleh 4 pohon
beringin yang cukup besar yang melambangkan usia yang cukup tua.
Setelah dari watu gilang saya
melanjutkan gowes saya kembali, kali ini kembali ke utara menuju Pasar Gede
atau Pasar Legi karena hari pasarannya Legi dalam hari Jawa, kebetulan hari
ahad kemarin pas Ahad Legi, jadi pas pasaran, pasar terlihat lebih ramai dari
hari biasanya, banyak pendagang yang mengelar dagangannya dipinggir jalan di
seputaran pasar gede ini, bahkan kemarin film AADC 2 juga sempet mengambil salah
satu adegan dalam shotting di pasar kota gede ini. Namun sayang kemarin saya
ngak sempet jajan di pasar kota gede ini, sebenarnya ada beberapa makanan khas dari
jaman kerajaan Mataram Islam dulu yang hanya di jual di pasar ini salah satu
nya kipo. Setelah melewati kemacetan pasar legi kota gede gowes saya
selanjutnya mengitari jalanan kota Jogja, dan meninggalkan daerah Kota gede. Demikian
sedikit cerita saya tentang Kota gede, selamat menjalakan ibadah puasa di bulan
Ramadhan salam nunggu bedhug maghrib...dug..dug..dug...
Thursday, 2 June 2016
Green Canyon (Cukang Taneuh)
![]() |
| pintu masuk objek wisata Cukang Taneuh |
Ya
setau saya memang waktu yang tepat untuk berkunjung ke Cukang Taneuh ini pas musim
kemarau, namun tau sendiri to sekarang ini musim begitu labil dan ngak tentu,
susah diprediksi, walaupun musim kemaraupun hujan masih sering nonggol secara
tiba-tiba tanpa kulon nuwun. Oke lanjut lagi ke pengalaman saya mengunjungi
Green Canyon. Masuk keareah Green Canyon kita harus menyewa perahu untuk
menyusuri sungai, harga tiket sewa satu perahu Rp. 150.000 untuk lima orang
penumpang, terus tambah lagi Rp. 100.000 untuk tarif extra time maksimal 30 menit.
Setelah membeli tiket masuk kita menunggu antrian dapat perahu no berapa gitu,
beruntung kemarin datang masih pagi, dan pengunjung belum begitu ramai jadi
tanpa antri lama kita bisa langsung naik ke perahu, karena kata si Aa’ kalau
pas musim liburan loket penjualan tiket jam 9 pagi sudah tutup karena saking
banyaknya pengunjung dan antrian bisa sampai sore.
Dengan
Bismillah saya menaiki perahu kecil lebih kecil dari perahu yang biasa dipakai
buat melaut, mesinya juga Cuma kecil jadi laju kapalpun tidak bisa terlalu
kencang karena posisinya juga melawan arus sungai, dari dermaga tempat saya
naik perahu tadi kurang lebih berjarak 3 kilometer untuk sampai ke batu payung
tempat para wisatawan bermain air. Sepanjang perjalanan kanan kiri sungai
berupa hutan mirip kayak di sungai amazon halah kayak udah pernah ke Amazon
aja, palingan juga ke Sungai Progo hahaha. Lama kelamaan pemandangan hutan di
kanan kiri sungai itu berbah menjadi tebing batu yang menjulang tinggi dan
sepertinya dari sinilah petualangan itu dimulai! Di depan ada aliran sungai
yang menyempi dan disisi sebelah kiri ada gundukan tanah yang disitu terdapat
seorang petugas yang bertugas mengatur lalu lintas perahu yang naik dan yang
turun agar bergantian sehingga tidak terjadi tabrakan, untung aja petugas
tersebut ngak sambil minta receh seperti yang marak terjadi saat ini di
sela-sela trotoar jalanan.
Terus
masuk keatas kita seolah masuk kedalam goa, hingga akhirnya perahu harus
berhenti karena memang sudah tidak bisa naik lagi karena terhalang batu, disini
kita ditawari sama Aa’ nahkoda perahu mini, kalau pengen bermain aer sampai ke
batu payung kita nambah Rp. 100.000, pikir saya ya ngak masalah udah jauh-jauh
sampai sini masak ya ngak sekalian main air dan melihat batu payung secara
langsung kan yo rugi bandar hahaha. Akhirnya dari kami berlima yang menaiki
perahu mini tersebut hanya kita bertiga yang ikut nyebur, dua teman saya yang
lain memilih menunggu di perahu.
Aliran
air Cukang Taneuh ini cukup deras, namun tidak usah kawatir, karena kita sudah
memakai pelampung, dan juga ada Aa’ yang selalu siaga mengawal kita selain itu
juga sudah ada tali yang dipake buat peganggan menuju lokasi batu payung. Namun
walaupun demikian butuh perjuangan lebih untuk bisa sampai ke batu payung,
apalagi yang ngak bisa berenang dan juga phobia air hahaha saya sendiri juga
sempet panik karena waterproof actioncam saya rembes, selain itu saya juga
takur kalau ada bagian dari tubuh saya yang kram karena sebelumnya tidak
melakukan pemanasan sama sekali sebelum berenang menyusuri aliran sungai yang
arusnya cukup deras, dan saya juga sempat terbawa arus, namun dengan segala
upaya yang saya lakukan saya berhasil menepi dan naik ke atas batu seperti
teman-teman yang lain.
Melihat
beberapa teman saya pada loncat dari atas batu payung, saya pun juga tertarik
untuk ikut merasakan sensasinya loncat dari atas batu payung tersebut, untuk
naik keatas batu payung dari tempat saya berdiri saya harus melompat keseberang
sungai terlebih dahulu, segeralah saya melopat dan mengikuti arus terus menepi,
namun tak disangka dari belakang teman saya ada yang menyusul saya, dan sialnya
dia ngak bisa berenang dan panik memegangi saya dan kami terbawa arus, sampai
di susul sama si Aa’ pengawal, teman saya disuruh melepas peganggan dari tubuh
saya, untungnya saya tidak ikut panik karena saya tau kalau teman saya ini
pasti lagi panik, akhirnya dia melepaskan peganggan dari tubuh saya, namun sial
bagi saya, batu payung jauh didepan sana, dan saya harus melawan arus deras
lagi. Namun karena saya tidak mau capek-capek melawan arus akhirnya saya
merambat didinding batu untuk sampe ke batu payung namun ya cukup ngeri boss...
Dengan segala perjuangan saya tadi akhirnya
saya berhasil juga berdiri diatas batu payung, namun untuk langsung loncat
nyali saya cukup ciut, akhirnya saya minta teman saya yang lain untuk nyusul
keatas batu payung lagi, setelah mereka sampai atas trus saya beranikan diri
untuk loncatttt sebenarnya sensasi seperti ini serin saya rasakan waktu masa
kecil saya dulu waktu sering mandi di kali, byurrrr....beberapa detik kemudia badan
ini kembali kepermukaan dan derasnya air membawa saya kehulu, sebenarnya masih
pengen loncat lagi, namun si Aa’ sudah ngode untuk ngajak kembali ke perahu,
padal saya liat jam tangan saya belum ada 30 menit, dan teman-teman saya yang
datang duluan juga masih pada assik disana, sial nih si Aa’ dalam hati saya
bergumam.
Akhirnya
saya kembali naik perahu untuk kembali ke dermaga dimana tadi saya naik perahu
tersebut, badan terasa capek terutama tangan saya pegel-pegel karena dipaksa
buat berenang melawan arus tadi, diperjalan menuju dermaga saya ngobrol lagi
sama si Aa’ untuk mengali informasi, Cukang Taneuh ini sebenarnya sudah ada
yang mengunjungi sejak tahun 1980an namun mulai rame sekitar tahun 1990an
ketika mulai ada stasiun Tv yang liputan di Green Canyon ini, dan semakin
kesini semakin rame karena bertambahnya informasi tentang Cukang Taneuh. Semoga
besok kalau ada kesempatan mengunjungi tempat tersebut pas airnya kehijauan
biar tambah yahuddd. Salam yahuddd.
Friday, 27 May 2016
27 Mei 2006
27 Mei 2006 mungkin akan menjadi salah
satu sejarah kelam bagi Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah,
khusus nya bagi warga Bantul, sebuah Kabupaten di wilayah selatan Kota Jogja. Pagi
itu kurang lebih pukul 05.53 menit kota Geplak ini diguncang gempa dengan
kekuatan 5,9 SR yang meluluh lantahkan sebagian rumah warga Bantul, kurang dari
1 menit goncangan gempa tersebut, namun efek yang ditimbulkan cukup besar. Lebih
dari 4000 nyawa melayang, dan ribuan masyarakat yang rumahnya runtuh akibat
gempa, belum lagi korban yang harus kehilangan bagian dari tubuhnya yang harus
diamputasi.
05.53 pagi bagi sebagian orang mungkin belum
terbangun kala itu, persis seperti saya, sabtu pagi itu saya terbagun karena
merasakan getaran dari dalam bumi yang cukup kencang, yang membuat saya lari
meninggalkan tempat tidur saya dan keluar dari rumah saya, walaupun saya orang
Bantul, tapi mungkin goncangan gempa yang dirasakan didaerah saya berbeda
dengan daerah yang berada di seputaran pusat gempa sana, saya bersyukur karena
saya masih bisa berlari keluar rumah, saya bersyukur karena rumah simbah saya
yang selama ini saya tinggali juga tida runtuh. Sampai diluar rumah saya masih
bisa merasakan goncangan tanah tersebut, pikir saya gempa tersebut berasal dari
gunung Merapi yang ketika itu memang sedang bergejolak yang hampir setiap malam
mengeluarkan lava pijar. Namun setelah mendengar siaran berita di Radio saya
baru tahu kalau gempa bukan berasal dari Gunung Merapi, setelah gempa mereda
dan melihat kerusakan rumah dan juga tetangga kemudian saya mandi, terus masuk
sekolah, karena itu hari sabtu dan juga melihat kerusakan yang tidak begitu parah
di kampung saya maka saya putuskan untuk tetap sekolah. Sampai disekolah
keganjilan tersebut mulai nampak, sekolah cukup lengang, dan beberapa bangunan
sekolah runtuh. Kemudian saya putar balik kendaraan saya dan pulang lagi
kerumah, sampai rumah mulailah terjadi ssedikit kecemasan, mendapat kabar kalau
Pasar Niten juga rusak parah akibat gempa saya langsung kepikiran simbah saya
yang jualan di Pasar Niten, belum lagi pak lik saya yang di Kalimantan juga
telp kalau rumah mertua nya di daerah Jetis Bantul juga runtuh dan saya disuruh
menengok kesana, akhirnya saya sama salah satu bu lik saya yang dirumah mencoba
menengok kesana sekalian ngecek simbah saya.
Namun ketika baru keluar sampai jalan
depan rumah Alhamdulillah simbah saya sudah sampai rumah, akhirnya saya
lanjutkan perjalanan, baru jalan sekitar 2 kilometer dari rumah terdengar isu
Tsunami lak yo mak njengirat bulu kuduk saya langsung kembali putar balik motor
saya dan tancap gas kembali, sampai rumah juga cukup panik, mau mengungsi
kemana pikir saya, karena rumah saya juga sudah termasuk dataran tinggi, banyak
warga yang mengungsi sampai daerah saya bahkan terus kebarat ketempat yang
lebih tinggi kepanikan benar-benar mencapai puncaknya! Ditengah kepanikan tersebut
salah satu teman saya ada yang nekad memanjat tower telekomunikasi yang
kebetulan baru selesai dibangun dan belum di fungsikan namun setelah sampai
atas hasilnya nihil, katanya dari atas gelap kayak ketutup kabut, kemungkinan
itu debu sisa robohnya bangunan akibat gempa tadi pagi. Isu baru mereda setelah
ada salah satu warga dengan alat komunikasi HT bisa mendapat informasi dari tim
SAR pantai Parangtritis bahwa disana aman-aman saja tidak ada yang namanya
Tsunami Alhamdulillah perasaan pun menjadi lega. Setelah isu mereda saya diajak
teman saya berkeliling saya lewat daerah Kasongan, Jln Bantul, hingga daerah
Kauman barat alun-alun Utara.
Sepanjang perjalanan saya melihat
pemandangan yang memilukan, rumah roboh, ada juga korban yang dievakuasi dari
dalam reruntuhan, orang-orang dengan luka dikepala duduk bergerombol dipinggir
jalan, dan juga suara sirene ambulance yang sering terdengar. Terlepas dari
bencana alam tersebut, kini Bantul sudah bangkit kembali sebagai Kabupaten yang
berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini rumah-rumah warga yang dahulu
runtuh terkena gempa kini sudah kokoh berdiri kembali lewat program
rekonstruksi pasca gempa yang di programkan oleh pemerintah. Gempa 27 Mei 2006
merupakan pelajaran yang berharga bagi warga Bantul yang tak akan terlupakan,
banyak pengalaman berharga dari peristiwa tersebut. Salam Bantul Bangkittt!
Tuesday, 24 May 2016
Pesona Pantai Batu Karas
Bagi pecinta olah raga surfing mungkin sudah
tidak asing lagi dengan yang namanya Pantai Batu Karas,pantai yang terletak di
Desa Batu Karas, Kecamatan Cijulang, ini dapat ditempuh dengan jarak kurang
lebih 34 kilometer dari Pantai Pangandaran atau sekitar 30 menit perjalanan. Selain
asik buat bermain surfing pantai ini juga cocok untuk melihat keindahan Sunrise
atau matahari terbit, ada dua spot yang cukup nyaman untuk menanti kemunculan
sang surya dari ufuk timur, yang pertama dari bibir pantai, kita dapat
menikmati keindahan sang surya yang perlahan memancarkan sinarnya sambil
bermain air dengan ombak yang tidak terlalu besar dipagi hari, pantai batu
karas ini cukup landai, namun kita juga harus tetap berhati-hati karena juga
ada tanda bendera area berbahaya untuk bermain air. Selain dari bibir pantai
untuk menikmati kemunculan sang fajar juga dapat dilihat dari atas bukit, dari
sini sepertinya lebih menarik karena kita dihadapkan langsung dengan laut lepas
samudera hindia.
![]() |
| kilau keemasan memantul di atas air pantai Batu Karas |
Selain
kita dapat menikmati keindahan alam, di pantai Batu Karas ini kita juga dapat
bermain berbagai permainan air mulai dari surfing, banana boat, donat boat,
pelampung, mini papan surfing yang disewakan disepangjang bibir pantai. Namun sayang
kemarin pas kesana saya sama sekali tidak mencoba dari berbagai permainan
tersebut, karena masih terlalu pagi dan waktu saya disitu juga tidak
banyak,karena sebenarnya kepantai Batu Karas hanya buat transit karena tujuan saya
ke Green Canyon, sedangkan Green Canyon sendiri mulai beroperasi pukul 08.00
pagi sedangkan saya sampai daerah pangandaran kurang lebih pukul 04.00 pagi
jadi sebelum ke Green Canyon kita mampir dulu ke Batu karas sekalian melihat
matahari terbit.
Belajar Membatik Kayu di Desa Wisata Krebet
Kata batik mungkin sudah tidak asing lagi ditelingga kita,
apalagi sejak di akui oleh UNESCO bahwa batik merupakan salah satu kebudayaan
asli Indonesia dan semua orang latah memakai batik, batik pun mulai berkembang
yang dulu hanya dipakai pada acara formal semata, kini pakai kemeja atau baju
batik bisa kapan saja dan dimana saja, anak mudapun kini sudah tidak malu lagi
mengenakan batik. Namun taukah kalian bahwa tidak hanya kain yang dapat
dibatik? Bahwa kayu ternyata juga dapat dibatik, seperti yang berkembang di
Desa Wisata Krebet yang terletak di Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan,
Kabupaten Bantul. Disanan jauh sebelum UNESCO mengakui bahwa batik merupakan
peninggalan budaya asli Indonesia sebagian masyarakatnya telah mengembangkan
kerajinan Batik Kayu.
![]() |
| mendapat penjelasan dari owner sanggar punokawan sebelum praktek |
Kebetulan hari Sabtu
21 Mei 2016 kemarin saya berkesempatan mengunjungi Desa Wisata tersebut
berserta rombongan saya dari SMK Muhammadiyah Bangunjiwo untuk melakukan
kegiatan luar kelas pada mata pelajaran Seni Budaya. Saya pilih Desa Wisata
Kerebet karna disana kita bisa mengenal 2 seni kriya sekaligus yaitu kriya kayu
dan juga kriya batik. Disana anak-anak akan melihat para pengerajin membuat
topeng dari kayu dengan cara dipahat, setelah jadi sebuah topeng barulah proses
pewarnaan dengan cara di Batik. Selain melihat tentu saja anak-anak dapat
praktek secara langsung membatik pada topeng yang telah disediakan di CV.
Sanggar Punokawan yang kami kunjungi kemarin, sanggar terbesar di Desa Wisata
tersebut.
![]() |
| dengan sabar mbak e mendampingi anak-anak praktek membatik |
Pada dasarnya proses membatik pada kayu itu sama dengan
membatik pada kain, Cuma beda medianya. Setelah kering, topeng kayu hasil karya
anak-anak tadi dapat dibawa pulang tentu saja itu akan menjadi kenang-kenangan
yang cukup berharga untuk anak-anak, selain dapet ilmu juga dapat cindera mata
hasil karyanya sendiri sangat menyenangkan bukan? Berminat belajar membatik
pada kayu untuk mengisi libur akhir pekan mu? Silahkan hubungi saya, nanti saya
antar kesana, harga cukup murah selain itu kalian juga bisa mengunjugi
spot-spot menarik yang terletak tidak jauh dari Desa Wisata Krebet.
![]() |
| hasil karya anak-anak dapat dibawa pulang setelah jadi |
Monday, 4 April 2016
Pantai Greweng, Keindahan yang tersembunyi
Seminggu yang lalu Sabtu-minggu 26-27 Maret 2016
saya bersama teman-teman dikampung saya ngecamp di Pantai Greweng, Gunung
Kidul. Setelah direncana beberapa minggu sebelumnya akhirnya kegiatan ngecamp
itu terlaksana. Kumpul pukul 1 siang disalah satu rumah teman saya akhirnya
baru bisa berangkat pukul 2 siang karena ada salah satu temen saya yang
mendadak ikut dan saya bersama dua temen saya harus nyusul teman-teman yang
lain yang sudah berangkat duluan. Pantai Greweng ini terletak disebelah timur
Pantai Wediombo dan Pantai Jungwok. Walaupun dulu saya pernah mengunjungi
pantai Wediombo namun kemarin itu saya benar-benar lupa jalannya, maklum udah
hampir 10th yang lalu. Sampai daerah sebelum sambi pitu akhirnya
ketemu dengan teman-teman yang tadi berangkat duluan dan kami kembali menyusuri
jalan Jogja-Wonosari yang kebetulan sore itu cukup rame dengan Bus wisata
maklum pas barengan long weekend.
![]() |
| Pantai Greweng |
Akhirnya sampai juga di daerah Kota Wonosari,
tepatnya di bunderan siyono, kita ambil kekanan sama seperti arah ke Pantai
Baron hingga ketemu dengan pertigaan Mulo, kita ambil ke kiri kalau lurus
sampai Pantai Baron, kita kekiri arah ke Tepus perjalanan sudah hampir 2 jam
namun belum ada tanda-tanda sampai ke daerah pantai hujan pun sempat turun
sehingga kami sempat berhenti untuk memakai mantol didaerah Tepus ya walaupun
sebenarnya hujan tidak terlalu deras. Sampai daerah Girisubo kami kembali
beristirahat dan menunaikan sholat ashar di sebuah Mushola yang terdapat di
komplek kantor kelurahan Desa Balong.
Hari semakin sore kita pun segera bergegas karena kata
teman saya jarak menuju pantai Greweng dari tempat parkir cukup jauh dan kami ngak
mau jalan dalam gelap malam karena dalam rombongan ada beberapa cewek yang
pasti bakal tambah bikin ribit kalau jalan dimalam hari. Tak berselang lama
dari tempat kita transit sholat ashar tadi akhirnya ketemu juga dengan TPR
objek wisata Pantai Wediombo, dengan tarif Rp. 10.000 satu motor untuk dua
orang, cukup murah dibanding dengan TPR Pantai Baron. Di TPR tersebut kita juga
dikasih tau kalau jalan setelah TPR tersebut merupakan turunan yang cukup
panjang jadi harap hati-hati. Setelah melewati turunan panjang dan berliku
mulai terlihat sekilas laut lepas di kejauhan yang menambah semangat saya untuk
segera sampai dipantai. Ngak berselang lama sampailah kita diparkiran untuk ke
pantai Jungwok, dan Greweng ditepi jalan aspal menuju pantai wediombo tadi,
tapi kami pikir jalan kaki nya masih jauh tapi kita juga sempet ragu nanti
kalau motornya kita bawa masuk lagi disana masih ada tempat parkir ngak? Akhirnya
temen saya ada yang bertanya sama warga setempat, dan disarankan untuk parkir
ke tempatnya mbah Suro.
Melewati jalanan tanah yang cukup licin dibeberapa
bagian karena ada kubangan air nya jadi harap hati-hati kalau ngak mau
terpeleset. Setelah melewati jalan offroad tadi akhirnya kita sampai ditempat
mBah Suro yang kami jadikan sebagai tempat parkir, melihat kedatangan rombongan
kami mbah Suro pun menyambut dengan hangat. Dan kami merupakan rombongan yang
pertama singgah ditempat tersebut sore itu. Setelah meminta ijin untuk parkir,
dan beristirahat sejenak kitapun bergegas untuk menuju Pantai Greweng, karena
dari tempat mbah Suro menuju pantai masih dibutuhkan waktu kurang lebih 20
menit jalan kaki dengan rute naik turun yang cukup menguras tenaga. Kami segera
bergegas melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang dipakai penduduk
setempat untuk akses menuju ladang mereka, oh iya dari tempat mbah Suro tadi
kami dibawain bekal timun suri. Setelah melewati jalan tanah dengan berbagai
kontur dari tanah biasa, becek, hingga berbatu serta tanjakan dan turunan
akhirnya pasir putih pantai mulai terlihat dari balik batu karang, terlihat
juga beberapa tenda yang sudah berdiri. Karena sudah merasa lelah setelah
melihat pasir putih terhampar rasanya lngsung pengeng nglekar aja, dan entah mengapa
tas saya terasa berat sekali dan membuat nyeri pundak saya, padahal barang
bawaan saya juga tidak terlalu banyak, dan akhirnya ada bagian dari tas saya
yang jebol karena ngak kuat nahan berat maklum Cuma tas biasa. Bersambung dulu
ya...
Oke mumpung ada waktu luang saya mau melanjutkan
cerita saya tentang pantai Greweng ini, owh iya setelah saya analisis dan tanya
keteman saya sepertinya yang membuat tas saya bertambah berat adalah water
blader yang saya bawa, dan saya salah meletakannya, memang sih dengan water
blader dalam perjalanan ketika haus akan lebih mudah untuk minum, namun
seharusnya water blader itu diletakan dalam tas yang nempel ke punggung biar
beban tidak terasa terlalu berat, FYI water blader saya berisi lebih dari 2
liter air sob.
Setelah semua rombongan sampai di pantai, kita pun
menentukan lokasi untuk mendirikan tenda, owh iya pantai greweng ini merupakan
cekungan yang tidak terlalu luas yang diapit dua karang, dan ditengah hamparan
pasir putih tersebut mengalir sungai yang membelah pasir pantai tersebut.
Setelah berdebat cukup panjang bagai sidang DPR akhirnya kita dapatkan lokasi
untuk mendirikan tenda, yaitu disebelah barat pantai deket dengan dinding
karang pantai. Menjelang pukul enam petang tenda sudah berdiri, dan kami semua
bisa memasuki tenda masing-masing. Setelah memasukan baarang bawaan kedalam
tenda, kami bersiap untuk sholat maghrib, dan diluar rintik hujan mulai turun
beberapa teman saya sholat jama’ah diluar tenda namun karena saya telat dan
intensitas rintik hujan juga semakin deras maka saya shoalat didalam tenda
bareng Zulfi salah satu teman saya.
Setelah sholat kami mulai makan dengan bekal yang
kami bawa dari rumah tadi, dan hujan semakin deras dan ditambah tiupan angin,
semakin lama angin semakin kencang tenda mulai ngak stabil, tenda sebelah yang
dihuni rombongan teman saya yang lain sudah mulai panik, sayapun juga mulai
panik melihat kondisi angin yang begitu kencang dan hujan yang cukup deras,
saya mulai berdiri sambil megang frame tenda sambil nyebut
“Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar...” dan berharap angin dan hujan
segera reda, namun hujan dan angin tak kunjung reda, pikiran mulai tak tenang,
apa ini akibat perkataan salah satu teman saya sore tadi waktu mendirikan tenda
yang agak sedikit takabur, dia tadi bilang “wes rapopo ra bakal ambruk keno
angin iki tendo ne” sambil nganjeli tenda dengan batu. Angin masih berhembus
dengan kencang, tenda yang ada di sebelah kanan tenda saya sudah roboh,
temen-temen saya yang ada didalam tenda sudah mengungsi dibawah batu karang dan
beberapa ada yang ikut membantu memegangi tenda yang ada di sebelah kiri saya,
saya pun sempet keluar ikut memindahkan barang-barang yang ada ditenda teman
saya ke dalam tenda yang saya tempati, air pun mulai masuk kedalam tenda, dan
tak lama berselang frame tenda saya juga patah dan merobekan tenda. Tak lama
kemudian badai itupun cukup mereda dan barang barang berharga seperti kamera,
dan kompor buat masak dipindahkan dibawah karang, bener-bener kejadian luar
biasa malem tersebut, dari 5 tenda 2 roboh dan rusak cukup parah, yang 1 lagi
yang saya tempati walaupun frame nya patah dan tendanya sobek namun ngak sampe
roboh. Untung saja 2 tenda yang ditempati cewek-cewek ngak ikut roboh. Karena
cukup kedinginan sayapun berinisiatip untuk mamasak air sekedar untuk menyeduh
kopi atau untuk membuat mie instant. Beberapa temen saya baju dan celananya
basah, bahkan ada yang ngak bawa baju ganti karena tidak memperkiraan bakal ada
kejadian seperti itu tadi.
Waktu menunjukan belum ada pukul 8 malam, dan pikir
saya ini masih sore dan malam masih panjang, akankah kita akan kedinginan
sepanjang malam karena tenda kita roboh, saya sempet berfikir gimana kalau yang
rombongan cewek dijadikan satu tenda dan yang satunya bisa dipake buat yang
cowok, namun sepertinya tidak memungkinkan. Setelah menghangatkan badan dengan
kopi panas, dan hujan juga sudah mulai reda kamipun mulai berbenah ditenggah
gelapnya malam kita mulai mengevakuasi tenda yang roboh, dan barang-barang yang
ada didalamnya. Dan setelah itu kami berinisiatip membuat tenda dari banner
yang kami pake buat alas waktu sholat tadi, akhirnya jadi juga tenda darurat
tersebut. Ditengah hening malam selepas badai yang menerpa tadi, kami mencoba
menyalakan api untuk menghangatkan badan dan juga untuk membakar jagung yang
kami bawa dari rumah. Di pantai Greweng ini sebenernya jika kita mau membuat
api unggun, kita ngak perlu repot-repot bawa kayu bakar, karena di area pantai
ni ada yang jual kayu bakar, namun perlu di ingat kalau kita mau membuat kayu
bakar kita harus menyewa alasnya dari penjaga pantai yang sekaligus jualan
tersebut ya memang buat menjaga kebersihan pantai juga sih, ya walaupun kita
juga sudah ditariki dana kebersihan namun ya bukan berarti kita boleh bebas
mengotori pantai to?
Setelah kenyang menikmati jagung bakar, sayapun
mulai terasa ngantuk, walaupun teman yang lain masih assik ngobrol sana sini,
saya mencoba untuk melelapkan mata karena besok masih ada perjalanan pulang
yang memakan waktu cukup lama jadi saya takut ngantuk dijalan. Akhirnya pagi
yang indahpun menjelang, birunya langit mulai nampak terlihat, di pantai
Greweng ini kita tidak bisa menikmati indahnya sunrise karena memang pantai ini
diapit oleh dua tebing. Setelah matahari kembali bersinar, kami mulai assik
bermain air dipantai, walaupun ombak nya terpecah oleh dua tebing yang mengapit
pantai namun kita tetep harus selalu berwaspada saat bermain air dipantai,
khususnya pantai laut selatan, karena memang berhadapan langsung dengan
Samudera Hindia. Puas bermain air, dan mataharipun semakin terik bersinar, kami
pun mulai mengemasi tenda, karena beberapa rombongan yang lain juga sudah pada
kukut.
Kukut-kukut tendapun kelar dengan beberapa tenda
yang sobek akibat badai semalem, sebelum meninggalkan pantai greweng kita
sempatkan buat foto-foto terlebih dulu buat mengabadikan moment, dan kita
kembali menyusuri jalan setapak yang kita lalui tadi sore, bedanya saat pulang
kita berjalan ditengah terik matahari dan stamina yang sudah mulai menurun,
namun dengan dengan tekad yang kuat kita bisa kembali ketempat kami parkir
sepeda motor dengan selamat. Setelah istirahat sejenak kita kembali lanjutkan
perjalan ke rumah dengan menahan rasa ngantuk yang amat sangat luar biasa.
Sunday, 6 March 2016
Menikmati Sore di Candi Abang
Walaupun
letak Candi Abang tidak terlalu jauh dari kota Jogja, namun ini adalah kali
pertama saya berkunjung ketempat tersebut. Komplek
situs candi Abang ini terletak di dusun Blambangan, Desa Jogotirto, Kecamatan
Berbah, Kabupaten Sleman. Penamaan candi Abang oleh masyarakat setempat karena
bahan dasar bangunan candi tersebut dari batu bata yang berwarna merah yang
dalam bahasa Jawa berarti Abang sehingga masyarakat setempat lebih sering
menyebutnya dengan candi Abang. Bahan dasar candi yang mengunakan batu bata ini
sama dengan kebanyakan candi yang ada di Jawa Timur, dan ini menjadi unik
karena kebanyakan Candi yang ada di sekitar Jogja dan Jawa Tengah mengunakan
bahan dasar batu andesit atau batu kali. Jika kita berkunjung ke candi abang
juga jangan kaget kalau terlihat tidak ada candinya dan yang tersisa tinggalah
gundukan tanah seperti bukit telletubies yang rumputnya terlihat hijau waktu
musim hujan seperti sekarang ini, dan terlihat gersang ketika musim kemarau
tiba.
Masuk ke komplek candi abang tidak ditarik
biaya retribusi, kita cuma bayar biaya parkir kendaraan saja. Dari tempat
parkir kita berjalan sekitar 100 meter sebelum sampai di kaki bukit
“teletubies” tersebut. Saya sarankan untuk berkunjung kesini pada waktu pagi
hari atau sore hari, karena pemandangannya terlihat lebih indah. View dari atas
puncak candi abang ini memang indah, disisi sebelah timur terlihat perbukitan
Candi Ijo dan juga pegunungan Gunung Purba di kab. Gunung Kidul, disisi utara
kita akan melihat Gunung Merapi jika pas cuaca cerah, dan disisi barat akan
terlihat pegunungan Menoreh di Kab. Kulon Progo.
Waktu itu saya berkunjung kesana pada waktu
sore hari dan langit juga cukup cerah, sehingga bisa menikmati pemandangan
menjelang sang surya kembali keperaduannya. Jika ingin menikmati sensasi
melihat sunset silahkan berkunjung ke candi abang tersebut, karena akses jalan
untuk menuju candi abang juga cukup mudah, banyak papan petunjuk arah menuju
tempat tersebut.
Sunday, 21 February 2016
Festival Dolanan Anak
![]() |
| Keseruan Festival Kegiatan Anak |
Dalam rangka menyambut HUT Remaja Wijaya Kusuma yang ke-40
organisasi pemuda di lingkup Padukuhan Kalirandu ini mengadakan Festival Dolanan
Anak, dalam kegiatan tersebut anak-anak diajak untuk kembali bermain dengan
berbagai permainan tradisional diantaranya ada gobak sodor, jlong jling, petak umpet,
boynan, bermain klereng, dakon, bas-basan dll yang dulu sempat ngehits di era
sebelum tahun 2000, atau di generasi anak tahun 90an. Nah untuk kembali
mengenalkan berbagai permainan tradisional tersebut kepada anak-anak maka
diadakanlah Festival Dolanan Anak tersebut. Ya memang ngak heran anak jaman
sekarang dari kecil mainannya adalah gadget jadi kebanyakan dari mereka ngak
tau dengan yang namanya boynan atau gobak sodor, alhasil sebelum bermain
anak-anak diberitahu terlebih dulu tata cara bermainnya.
Berbagai permainan
tradisional tersebut sebenarnya banyak manfaatnya selain untuk berkumpul
bersama teman-teman sebaya, berbagai permainan tersebut juga untuk melatih
berbagai sensor motorik pada anak yang sedang berkembang. dari pada seharian
bermain game di gadget yang mereka miliki. Bagi kami kegiatan tersebut juga
sebagai moment untuk bernostalgia pada masa kecil dulu yang ketika tiap sore
atau bahkan sepulang sekolah terus berkumpul bersama teman-teman yang lain
untuk bermain dengan berbagai permainan tradisional tersebut.
Friday, 19 February 2016
Melihat Waduk Sermo dari Puncak Dipowono Canting Mas
![]() |
| Melihat waduk sermo dari jauh |
Puncak Dipowono Canting Mas merupakan salah satu tempat untuk
menikmati landscape kota Jogja dan laut selatan dari ketinggian yang terletak
diperbukitan Menoreh Kabupaten Kulon Progo. Tempat wisata yang masih dalam
proses dirintis ini mungkin belum banyak dikenal seperti Kali Biru yang
letaknya tidak terlalu jauh dari tempat ini. Rute untuk menuju tempat ini
hampir sama dengan rute menuju Kali Biru, kalau kita dari arah Jogja melalui
jalan wates, kita belok kanan di pertigaan pasar sentolo, ikuti aja jalan
tersebut, nanti belok kanan lagi setelah ketemu pertigaan arah Clereng, setelah
itu ikut terus jalan tersebut nanti setelah ketemu jembatan dan ada papan nama
petunjuk jalan ke arah Kali biru silahkan ikuti jalan tersebut niscaya itu
berada di jalan yang benar.
Sampai didaerah
tersebut kita disuguhkan hamparan persawahan yang membentang cukup luas,
setelah itu jalan mulai menanjak pastikan kondisi kendaraan anda prima, jangan
sampai ketika anda ngajak gebetan terus si gebetan disuruh turun dan mendorong
kendaraan anda kan ngak assik banget bro, semakin lama tanjakan semakin berat
bro kayak hidup ini hahaha. Setelah pemanasan dengan tanjakan yang lumayan,
kita ketemu pertigaan dikawasan hutan rakyat, nah disitu ada pertigaan kalau
lurus kearah kali biru, kalau ke kanan ke arah puncak dipowono canting mas. Sebenarnya
teman saya pengen ke Kali Biru, tapi ngak ada salahnya juga saya ajak ke Puncak
Canting Mas dulu, oleh karena itu saya ambil ke kanan, dan jalan semakin
menanjak. Ikuti terus jalan tersebut, sampai nanti ketemu petunjuk arah untuk
ambil ke kiri dan jalan berubah menjadi cor blok, dan sebelum sampai lokasi
jalannya menurun cukup curam jadi hati-hati kalau ngak mau jatuh kepleset.
Sampai lokasi kita
ditarik uang restribusi sebesar Rp. 12000 untuk parkir dan tiket tanda masuk,
dulu waktu saya pertama kali kesini belum ada restribusi tiket masuk, Cuma parkir
doang. Pada saat saya kesana kemarin sampai lokasi tidak banyak pengunjung dan
relatif sepi, ya maklum pas week day bukan hari libur jadi bisa nyante dan
menikmati pemandangan sepuasnya.
![]() |
| perbukitan Menoreh |
Untuk fasilitas belum
banyak berubah dari saya pertama kesana, ya maklum masih dalam tahap
berkembang, setelah puas ngobrol dan menikmati pemandangan disana, kami pindah
ke destinasi selanjutnya yaitu Kalibiru tempat yang sudah pernah saya review
dulu diblog ini dan masih menempati urutan pertama yang paling banyak dibaca
diblog saya. Dari Puncak Cantingmas menuju kalibiru tidaklah jauh, kita tinggal
menyusuri jalan menurun karena memang letak puncak dipowono atau cantingmas ini
lebih tinggi dari pada kalibiru, sampai parkiran saya cukup kaget diluar
perkiraan saya karena parkiran juga penuh berbanding terbalik dengan puncak
dipowono tadi. Setelah parkir saya beli minum diwarung tempat kami parkir, dan
saya juga sempat tanya pada bapak yang jaga parkir, “rame juga ya pak?”, tanya
ku. “iya mas, brati promosi wisatanya berhasil kalau rame” kata si bapak. Setelah
itu saya berlalu begitu saja dan naik keatas dan bayar restribusi masuk sebesar
Rp.5000 untuk 1 orang kalau bersama pasangan ya berarti Rp.10000 karena sudah
memasuki waktu Dzuhur, maka kami beristirahat sejenak dan sholat Dzuhur di
Mushola yang berada di kalibiru tersebut, sebenarnya di dipowono tadi juga
sudah tersedia Mushola.
Setelah selesai ibadah
kami mulai jalan dan memasuki kawasan wisata alam tersebut, saya cukup
tercengan ternyata banyak juga orang yang mempunyai waktu luang pas weekday hahaha
dan ternyata sekarang kalibiru sudah berubah menjadi studio alam, dengan
membayar entah berapa puluh ribu kalian bisa ikut trip outbond, dengan beberapa
rintangan dan juga bisa narsis karena sudah ada fotografer yang selalu siap
mengabadikan setiap moment anda. Bahkan disalah satu spot foto sudah dilengkapi
dengan dua buah lampu blizt eksternal, dan dispot lain sudah perlengkapan lain
lagi layaknya disebuah studio, jadi kalian tinggal berpose aja layaknya seorang
model, setelah itu tinggal upload di sosial media pastilah mendapat like yang
banyak hahaha.
Keberhasilan masyarakat
setempat dalam mengembangkan potensi wisata alam dikalibiru tentu saja
mengangkat perekonomian didaerah tersebut, smoga wisata alam kalibiru bisa
lebih baik lagi, walaupun banyak tempat sampah yang sudah tersedia diberbagai
sudut, namun cukup disayangkan karena disamping toilet ada seperti tempat
pembuangan akhir sampah dan dibakar ditempat tersebut, kan cukup disayangkan. Ya
smoga puncak Dipowono yang menjadi kunjungan pertama saya tadi bisa berkembang
juga seperti Kalibiru ini.
Tuesday, 9 February 2016
Green Village Gedangsari
Sebuah tempat wisata baru di Kecamatan
Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul. Tempat wisata ini menyuguhkan pemandangan
alam yang cukup indah, bentang sawah didaerah Kabupaten Klaten dan juga waduk
rowo jombor terlihat jelas dari tempat ini. Saya berkempatan mengunjungi tempat
tersebut beberapa bulan yang lalu tepatnya hari Rabu, 23 Desember 2015, saya
kesana karena diajak rekan kerja saya yang ingin main kesana bersama gank jaman
kuliahnya dulu. Saya berangkat dari perempatan ringroad jalan Wonosari yang
menjadi meet point kami sekitar pukul 9 pagi, setelah bertemu teman saya atun
kami bergegas menuju Blok O untuk bertemu dengan gank kuliah atun si Dya dan
Dwi. Setelah bertemu kami langsung bergegas menuju TKP melewati jalur berbah
terus tembus piyungan dan naik menuju jalan wonosari.
Karena dari kami berempat belum pernah ada
yang kesana praktis kami hanya mengandalkan google maps sebagai penunjuk jalan.
Selain itu ini juga kali pertama saya main dengan gank nya atun dan disinilah
kredibilitas saya sebagai bolang dipertaruhkan hahaha. Setelah naik sampai
patuk kita masih lurus menuju arah kota wonosari, sampai dengan pertigaan
sambipitu kita belok kiri menuju arah Glipar dan Gendangsari atau sama dengan
jalan menuju Embung Batara Sriten, sebuah embung tertinggi di Gunung Kidul yang
view nya juga keren namun dibutuh perjuangan untuk mencapai lokasi tersebut
karena memang jalannya yang tidak begitu bagus. Kita lanjut lagi cerita
perjalanannya, setelah mengikuti jalan sambipitu tadi, kita dipertemukan
pertigaan menuju Gedangsari, kita ambil kiri mengikuti arah ke Gedangsari
tersebut, wilayah Gedangsari ini berbatasan langsung dengan wilayah Klaten,
Jawa Tengah jadi selain via Jalan Wonosari menuju ke Gedangsari ini juga bisa
ditempuh via Jalan Jogja-Solo. *nanti saya ceritakan diperjalanan pulang. Memasuki
wilayah Gedangsari kami mulai buta arah dan beberapa kali saya menyuru atun
untuk membuka GPS di hape saya untuk memastikan kita berada dijalur yang benar.
Setelah melewati lebih dari 1 jam perjalanan
dan melewati jalan yang cukup gronjal gronjal dan mulai bingung dengan jalan
yang kita lewati kita putuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan membuka
bekal yang kita beli diperjalanan tadi. Sambil minum dan makan roti serta
melihat pemandangan yang cukup indah di bawah sana menambah nikmat rasanya
walaupun panas matahari cukup terik siang itu. Setelah sejenak beristirahat
kita kembali melanjutkan perjalanan, dan agak ragu dengan jalan yang kita lalui
karena sepertinya jalannya tidak lazim untuk menuju kesebuah tempat wisata,
setalah naik turun bukit dan menyusuri jalan yang berkelok-kelok dengan kondisi
jalan yang bermacam-macam akhirnya kita samapai jalan yang benar untuk menuju
Green Village Gedangsari setelah tanya dengan adik yang baru pulang dari
sekolah, karena sudah yakin dengan akses jalan untuk menuju tempat tersebut,
kita putar balik kebawah untuk mampir ke Masjid, ada sebuah Masjid dengan
bangunan yang cukup megah ditempat yang cukup jauh dari Kota tersebut.
Setelah menjalankan Ibadah kita langsung
menuju ke Green Village Gedangsari yang jarak nya tidak terlalu jauh dari
Masjid tersebut. Sampai TKP kita langsung memarkir sepeda motor, tidak ada
restribusi tiket masuk untuk datang ketempat tersebut, cukup dengan membayar
ongkos parkir sepeda motor dengan tarif Rp. 3000 kalau tidak salah. Setelah parkir
kita langsung bergegas menikmati bentang alam dari tempat yang lagi ngehitz di
Instagram tersebut, walaupun dibawah terik matahari atun and the gank tetep
tidak peduli dan sibuk berfoto ria biar ikut ngehits, alhasil saya yang jadi
korban untuk menjadi fotografer dadakan. Namun saya juga ngak mau kalah dengan
mereka untuk ikut berfoto ria. Pada saat saya kesana pengunjung cukup banyak
walaupun pas weekday, mungkin karena pas liburan semester. Ditempat tersebut
juga sudah terdapat fasilitas beberapa Gazebo untuk berteduh dari terik panas
matahari dan juga untuk menikmati pemandangan alam ditempat tersebut, selain
itu juga terdapat bangunan rumah limasan serta toilet. Melihat ada salah satu
Gazebo yang kosong kita bergegas untuk memakai gazebo tersebut untuk beristirahat
dan kembali menikmati bekala yang kami bawa tadi, namun sayang tidak lama
kemudian terlihat awan mendung mulai mengelayut dan Dya temennya atun mulai
panik dan mengajak pulang akhirnya kami bergegas untuk pulang, namun sebelum
pulang kami kembali foto dibawah tulisan Green Village Gedangsari. Selain itu
kita juga tanya dengan penjaga parkir untuk akses jalan yang lebih mudah, dan
kita disarankan untuk lurus naik keatas nanti setelah ketemu pertigaan disuruh
ambil kiri untuk lewat Klaten.
![]() |
| urip mung mampir ngombe |
Belum terlalu lama
setelah kami meninggalkan Green Village Gedangsari ternyata hujan benar benar
turun dan cukup deras, kami segera mengambil mantol yang ada di bagasi motor
untuk kami pakai, dibawah guyuran hujan yang cukup deras dan kami juga masih
buta dengan jalan yang kami lalui akhirnya ketemu juga dengan jalan mulus untuk
menuju wilayah klaten, namun setelah ketemu jalan mulus tersebut saya juga
sempat berdebar-debar karena kita langsung disuguhkan turunan tajam, dan saya
juga belum mengetahui medan jalan tersebut, sayapun sempat hampir terjatuh
ketika menuruni jalan tersebut, karena jalanan yang licin dan ketika motor saya
rem dan membuat ban selip hingga kami hampir aja jatuh, namun Alhamdulillah
saya masih bisa mengendalikan motor hingga akhirnya kami selamat melewati
turunan tajam tersebut. Sampai bawah kita sudah memasuki wilayah Klaten, karena
masih hujan saya pun tidak mengeluarkan Hape untuk melihat GPS, sehingga saya
hanya main felling aja, dan akhirnya ketemu jalan utama Jogja-Solo dan disambut
kemacetan panjang dan guyuran hujan lebat di daerah Prambanan. Itulah tadi cerita
saya tentang Green Village Gedangasari, sebuah tempat yang cukup bagus untuk
dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata, namun alangkah lebih baiknya kalau
dikasih papan petunjuk arah untuk sampai kelokasi tersebut yang lebih banyak,
agar memudakan para pengunjung untuk sampai ketempat tersebut.
Monday, 8 February 2016
Membuka Lembaran Baru
Setelah sekitar 3 bulan vakum tidak menulis
diblog, karena berbagai kesibukan dan kesoksibukan maka kini saya buka kembali
lembaran baru dalam menulis diblog, karena sudah cukup banyak hal dan petualangan
saya selama triwulan terakhir ini. Pertama saya berduka karena partner nulis
saya yang sudah menemani saya sejak 3tahun yang lalu, hampir 4tahun sih
sebenernya si Toshiba L645 saya meninggal sekitar sebulanan yang lalu karena
VGA nya mati dan ini bukan hal yang mengejutkan bagi saya, karena memang
sebelumnya sudah punya riwayat sakit tuh VGA, dan kalaupun saya service kata
temen saya yang biasa nyervice laptop itu tidak akan menjamin bakal bertahan
lama, dan bakal rusak lagi, alhasil saya istirahatkan saja itu L645. Praktis kegiatan
menulis saya agak tersendat walaupun sebenernya bias pake hape, namun bagi saya
kurang nyaman jadi ya saya pending dulu kegiatan menulis saya.
Dan kini setelah beberapa hari yang lalu
searching dan hampir sekitar sebulan setelah meninggalnya L645 akhirnya saya
menjatuhkan pilihan pada ASUS E202SA, sebuah netbook tipis, kecil, dan harga
yang masih bersahabat dengan performa yang tidak terlalu mengecewakan. Saya memang
cari yang agak kecil biar ringan buat dibawa kemana aja, toh pemakaian juga cuma
buat office dan browsing doang. Smoga si asus e202sa ini bisa awet dan tahan
lama, dan bisa menjadi partner jari saya dalam menulis dan melakukan kegiatan
yang lain.
Tuesday, 6 October 2015
Jogja Rolling Scoots
Sabtu malam langit berbintang
Waktunya tuk turun kejalan
Dan kuasai seluruh kota
Rapatkan barisan hey kawan
Jangan sampai kau ketinggalan
Jangan sampai kau kehilangan jalan…
Petikan lirik lagunya Shaggy Dog yang
berjudul Scooter Boys tersebut sepertinya tepat mengambarkan suasana sabtu
malam 3 okt 2015 kemarin, untuk pertama kalinya saya ikut teman dikampung saya
rolling pake Vespa keliling Kota Jogja dalam acara Jogja Rolling Scoots acara
berkumpulnya anak-anak Vespa di Kota Jogja. Sebenernya ngak sengaja sih saya
ikut, karena saya juga ngak tau jadwalnya juga, Cuma kebetulan kemarin pas ada
pertemuan karang taruna dikampung teman saya bima tri dan bima ngobrol kalau
mau rolling vespa gitu, karena penasaran saya pun ikut.
Rapat belum ditutup dan kamipun mbolos
duluan karena mau rolling vespa, kebetulan juga saya dapet sms dari teman saya
yang mau datang kerumah mbahas piknik karena keesokan harinya saya ada jadwal
piknik ke kebumen, walaupun pada akhirnya saya ndak jadi ikut piknik hehehe lha
baru sekitar 3 minggu yang lalu saya berkunjung di tempat yang sama. Setelah
urusan dengan teman saya beres saya bergegas untuk keluar rumah karena sudah
ditunggu saya teman saya Tri Sartono. Kamipun melaju kearah utara untuk
nyamperin Bimo dan Imam yang sudah menunggu di pertigaan diujung kampung saya.
Tanpa basa-basi kitapun melaju membelah kemacetan sabtu malam di kota Jogja.
Setelah isi bensin di SPBU jl. Tamansiswa
kita langsung menuju Balai Kota, disana sudah berkumpul ratusan atau bahkan ribuan
motor vespa dengan berbagai type dan aliran modifikasi semua kumpul menjadi
satu. Setelah nongkrong beberapa saat, satu per satu rombongan mulai jalan
untuk rolling tak lama berselang teman sekampung saya yang berangkat duluan ke
balkot nya yaitu Endro bergabung juga dengan kita, jadi ada 3 vespa yang dalam
rombongan saya, setelah itu kamipun ikut rolling membaur dengan rombongan yang
lain. Rute rolling malem itu dari balkot keselatan melewati jalan Kusumanegara
ketimur sampai perempatan Gedong Kuning ke utara melewati depan JEC sampai
perempatan blok O ke utara melewati fly over janti terus kebarat melewati jalan
Laksda Adi Sutjipto kebarat terus melewati pertigaan UIN terus menuju jalan
Urip Sumoharjo dan masih lurus terus kebarat menuju Jalan Jenderal Sudirman
hingga sampai perempatan Tugu Jogja, belok kiri menuju jalan Margo Utomo sampai
sini rombongan sudah mulai terpecah ada sebagian yang mampir nongkrong ada juga
yang langsung pulang, sepanjang perjalanan tadi juga banyak bertemu dengan
rombongan rolling dari komunitas sepeda motor lain, karena mungkin malem minggu
ya jadi banyak juga komunitas-komunitas sepeda motor yang lain yang juga
mempunyai agenda yang sama yaitu kumpul dan rolling.
![]() |
| suasana di Balkot sebelum rolling |
Oke lanjut lagi perjalanannya tadi, dari
jalan Margo Utomo melewati jembatan Kleringan dan menuju Jalan Malioboro,
sebenarnya pengen mampir nongkrong di Jalan Malioboro, namun karena ngak ada
tempat yang strategis untuk nongkrong maka kamipun jalan terus, rencananya
pengen nongkrong di Alkid, namun sebelum nongkrong di alkid pengen cari minum
dulu, akhirnya mampir Indonmart di jalan Brigjen Katamso, sambil istirahat dan
minum, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 01.30 pagi, dan kami pun
melanjutkan perjalanan pulang dan ngak jadi nongkrong di Alkid. Itulah pengalaman
pertama saya ikut jogja rolling scoots.
Thursday, 1 October 2015
Bibis Enduro Race!
Beberapa bulan terakhir ini Puncak Bibis
menjadi salah satu tempat favorit para Goweser di Jogja dan sekitarnya, hampir
setiap akhir pekan warung bubur bu Yati yang dijadikan tempat berisitirahat
selalu rame dikunjungi para goweser setelah melahap tanjakan Bibis, ya walaupun
puncak Bibis relatif cukup dekat dari rumah saya tapi saya malah belum pernah
sama sekali mampir ke warung bubur nya bu Yati, hingga tadi pagi Ahad 27
September 2015 saya bersama teman SMP saya dulu Agus mampir ke warung tersebut.
Sebenernya tujuan utama saya bukan untuk mencoba bubur nya Bu Yati, namun
pengen mencoba track Bibis Enduro ya sebuah ajang balapan ketahanan fisik
dengan rute blusukan di daerah Bibis dan juga daerah Pajangan. Lomba itu
sendiri rencananya akan di laksanakan besok tanggal 3-4 Oktober 2015, dengan
berbagai katagori kelas, namun karena saya masih pemula jadi ya belum berniat
untuk ikut lomba tersebut.
Rencana untuk mencoba track tersebut
sebenernya sudah dari beberapa waktu yang lalu, namun karena belum pernah nyoba
dan waktu itu juga petunjuk arahnya juga belum jelas dan juga waktu luang yang
belum ada maka belum terwujudlah keinginan untuk mencoba track tersebut, hingga
minggu kemarin waktu ikut jelajah Sepeda Tahura di rest area hutan Bunder
Gunung Kidul yang kebetulan juga bareng sama si Agus maka saya ajak dia untuk
mencoba track Bibis enduro, kebetulan rumah Agus ini juga daerah Pajangan yang
dilalui jalur blusukannya dan dia juga sudah beberapa kali mencoba jadi aman
deh ngak akan nyasar. Singkat cerita sabtu pagi kemarin saya wasapp Agus
ngajakin untuk mencoba track tersebut karena kemarin janjinya sehabis Lebaran
Idul Adha, namun karena sabtu kemarin Agus lagi ada acara di Gunung Kidul maka
dia ngajak Ahad pagi, oke karena saya juga ngak ada acara maka saya iya kan
saja.
Pagi itu pukul 06.00 pagi saya berangkat
menuju ke Gapura perbatasan Desa Wisata Krebet yang menjadi meet point saya
untuk bertemu dengan Agus, dengan penuh semangat saya kayuh sepeda menuju kesana
dan sampai sana Agus sudah menunggu, saya kira dia bersama teman-teman yang
lain, ternyata dia juga cuma sendiri alhasil kita gowes Cuma berdua, setelah
say hello kita lanjutkan gowes ke titik start Bibis Enduro yaitu di depan
warung bubur bu Yati, sekalian sarapan bubur terlebih dahulu, karena jarak dari
Krebet menuju Bibis tidak terlalu jauh maka tak sampai 15 menit sampailah kita
di warung bubur bu Yati, sampai sana sudah banyak para Goweser yang sudah tiba
disana lebih dulu. Ya walaupun tadi dari rumah belum sarapan, tapi saya memilih
untuk tidak makan bubur takut ntar muntah kalo dipake blusukan dengan rute yang
naik turun, untung warung bu Yati tersebut juga menyediakan Telo godok dan
gedang godok wah cocok banget ini salah satu makanan favorit saya plus minumnya
teh gulo batu, maka nikmat Tuhan mu manakah yang kamu dustakan hehehe, pagi itu
ternyata panitia Bibis Enduro Race melakukan uji coba penghitungan waktu untuk
persiapan lomba, namun saya sama Agus tidak ikut, kita memilih untuk start
duluan dan gowes sak tekane, setelah menghabisan makanan dan istirahat sejenak
sekitar pukul 07.00 pagi kami memulai gowes untuk menelusuri rute Bibis Enduro,
rute yang kita lewati sangat beragam, mulai jalan aspal, jalan cor blok,
jalanan tanah hingga jalanan berbatu, tanjakan dengan kemiringan yang lumayan
jahanam hingga turunan yang curam juga ada, dan saya yakin walaupun sudah ada
petunjuk jalannya, kalau saya kemarin ngak sama Agus pasti saya kesasar. Singkat
cerita karena ini baru pengalaman pertama saya mencoba rute tersebut, kami
memutuskan untuk potong kompas dan tidak full mengikuti jalur Bibis Enduro
hehehe, dari total jarak keseuluruhan sekitar 20 Km an, kami kemarin cuma menempuh
jarak 11,8 Km tapi itu juga sudah lumayan untuk mengencangkan kaki. Mungkin itu
dulu cerita tentang pengalaman saya mencoba track Bibis Enduro yang sakira
belum bisa memberi gambaran karena memang susah untuk digambarkan dan lebih
assik untuk dicoba :D
Sunday, 27 September 2015
Affandi Alive!
Setelah selesai nonton Taher Ujian Tugas
Akhir Karya Seni dan sebagian teman-teman yang datang juga sudah pada pulang,
saya ngajak habib yang kebetulan tadi datangnya telat untuk melihat Gramedia
book fair di Lippo Plaza Jogja sekalian liat-liat mall baru tersebut, karena
memang belum pernah kesana,setelah membelah kemacetan demangan akhirnya sampai
juga di Mall baru tersebut, ya bangunan ex. Saphir square tersebut kini telah
berganti nama menjadi Lippo Plaza Jogja, setelah memarkir sepeda motor hal ini terulang
lagi setiap kali datang mall baru, yups bingung mencari lift buat masuk, dan
akhirnya saya naik lewat tangga darurat dan masuk lewat pintu sebelah barat,
ketika masuk mall tersebut menurut saya interiornya cukup bagus, dan seingat
saya memang berubah drastis dari bangunan interior jaman Saphir Square dulu.
Oke sesuai tujuan saya tadi yaitu pengen liat-liat buku di gramedia maka
langkah kaki saya tujukan ke area gramedia book fair tersebut, setelah cukup
lama melihat-lihat buku dan belum ada yang membuat saya khilaf untuk membelinya
maka saya putuskan untuk berkeliling mall terlebih dahulu sekalian meliha-lihat
ada apa aja di dalam mall tersebut.
Setelah berkeliling dan sempat berhenti di
depan bioskop untuk melihat-lihat karena teman saya habibi tersebut termasuk
orang yang maniak film, setelah itu kami kembali turun dan baru teringat kalau
di dalam mall tersebut ada suatu tempat untuk menaruh karya Affandi, karena
binggung tempatnya disebelah mana maka saya suruh habibi untuk tanya ke
security mall dan akhirnya mendapat penjelasan tentang dimana tempat itu
berada, tempat tersebut bernama Affandi Alive! Karena ngak tau si habibi mau
langsung masuk aja, ternyata masuknya pake tiket hehehe setelah tanya HTM nya
yang ternyata hanya Rp. 10.000 cukup murah untuk melihat karya-karya salah satu
Maestro seniman lukis di Indonesia, setelah mengisi nama dan alamat pada tiket
dan saya juga sempat bertanya pada bapak yang menjual tiket tersebut apakah
lukisan yang di dalam tersebut merupakan lukisan asli dari Affandi atau Cuma
replika? Dan si bapak tersebutpun menjawab bahwa lukisan tersebut asli dan
merupakan lukisan koleksi si pemilik Lippo bahkan lukisan tersebut ada yang di
datangkan dari Brasil karena sudah dimiliki oleh kolektor di Brasil, karena
saya kira lukisan-lukisan tersebut diambil dari koleksi museum Affandi yang
berada di Jogja ternyata tidak.
Selesai mengisi biodata di tiket kami pun
masuk, didalam museum tersebut terdapat karya Affandi dan juga istrinya
Maryati, museum tersebut menyimpan karya lukisan Affandi sebanyak 26 buah
lukisan yang terbagi menjadi 3 tema besar yaitu potret diri, topeng serta
Affandi dan keluarga. Tata ruang museum tersebut juga cukup bagus dengan
pencahayaan yang bagus juga, ya ngak perlu dipertanyakan yang punya mall
merupakan grup pengusaha properti yang cukup kondang di Negeri ini dan juga
kolektor seni maka dalam membuat suatu ruangan untuk menaruh koleksi yang
harganya milyaran ya pastilah dibuatkan tempat yang well, namun cukup
disayangkan untuk karya sekelas Affandi caption keterangan lukisan yang ada di
dalam museum tersebut Cuma kertas HVS biasa yang diprint keterangan judul
karya, ukuran, media dan tahun lukisan tersebut dibuat, untuk informasinya sih
cukup oke, namun alangkah lebih bagusnya lagi kalo kertas nya ngak cuma HVS
putih biasa, mbok di bikin yang lebih mewah sedikit, oh iya walaupun diluar ada
tanda kamera disilang yang berarti tidak boleh memotret tapi ternyata kami
kemarin diperbolehkan untuk foto didalam ruang museum tersebut, ya memang
kadang dibeberapa museum ada yang tidak memperbolehkan pengunjung untuk
mengambil gambar yang menjadi koleksi di museum tersebut. Dilobby museum tersebut
juga terdapat beberapa kursi dan buku bacaan sepertinya untuk ruang tunggu
pengunjung jika pengunjung terlalu banyak, namun saya juga kurang tau pasti
berapa batasan maksimal orang yang ada didalam ruangan museum tersebut.
Secara keseluruhan hadirnya museum didalam
mall ini merupakan terobosan yang bagus dan layak untuk di apresiasi, jadi kita
ke mall bukan hanya untuk sekedar jalan-jalan atau nonton di bioskop namun juga
dapat mengunjungi dan menyaksikan karya-karya dari salah satu seniman besar
yang pernah ada di Indonesia yaitu Affandi, semoga juga keamanan museum
tersebut juga terjamin aman, sehingga tidak ada lagi pencurian-pencurian karya
seni. Oh iya alangkah lebih baiknya lagi kalau mall tersebut juga menyediakan
ruang gallery sebagai tempat para seniman untuk berpameran kan keren tuh kita
nonton pembukaan pameran di dalam mall hehehe.
![]() |
| suasana di dalam museum Affandi Alive! |
![]() |
| Salah satu karya Affandi yang ada di Affandi Alive |
Wednesday, 23 September 2015
Street Art Jogja
Pagi ini Kamis, 24
September 2015 yang juga bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Adha 1436H yang
ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, namun karena saya sholat Ied nya
kemarin sesuai dengan Maklumat Muhammadiyah maka pagi ini tadi saya putuskan
untuk Gowes, semalem sih rencananya pengen liat Grebeg Idul Adha di Alun-alun
Utara, namun karena sampai alun-alun tadi pagi baru sekitar pukul 07.15 saya
pikir terlalu lama jika harus nunggu sampai jam 10.00 pagidan nanti pulang juga
sudah terlalu panas di jalan, maka tujuan sayapun bergeser untuk berburu
grafiti yang ada di tembok-tembok di pinggir jalan kota Jogja ini. Dari alun-alun
utara laju sepeda saya arahkan ke TBY, karena di gang depan TBY banyak terdapat
Grafiti dan juga di sepanjang jalan Mayjend Suryotomo sampai jalan Mataram,
begitu banyak grafiti dari berbagai boomber yang ada di Jogja ini.
Bagi sebagian orang gambar-gambar grafiti tersebut menganggu dan
merusak sehingga disebut sebagai sebuah Vandalisme, ya kalau tidak ada ijin
dari sipemilik tembok dan merusak vasilitas umum itu merupakan bentuk sebuah
vandalisme kalau menurut saya, namaun kalau si pemilik tembok sudah mengijinkan
makan gambar grafiti tersebut menjadi sebuah karya streetart yang enak
dipandang, coba bayangkan jika tembok-tembok tersebut Cuma di cat dengan warna
polos putih gitu aja pasti Cuma jadi biasa aja ngak ada seninya dan ngak ada
orang yang mau sejenak berhenti untuk menatap tembok tersebut. Dari jalan
Mataram laju sepeda saya arahkan ke seputaran Stadion Kridosono, karena tembok
yang mengililingi stadion tersebut juga dihiasi oleh gambar grafiti dan selama
ini kalo lewat jalan tersebut pengen berhenti dan berfoto dengan background
gambar-gambar grafiti tersebut, namun setelah saya amati grafiti yang ada di
stadion Kridosono ini merupakan grafiti hasil lomba, itu terlihat dari tulisan
yang hampir sama dan sepertinya menjadi tema dalam lomba tersebut. Setelah mengitari
stadion kridosono perjalanan kembali saya lanjutkan menuju jembatan kali code,
ini juga untuk kali pertama saya mampir berhenti dan berfoto diatas jembatan
kali code tersebut, setelah memotret kawasan kampung code yang di cat
warna-warni oleh salah satu perusahan rokok perjalanan saya lanjutkan kembali
dan tujuan selanjutnya adalah rumah karena matahari juga semakin terik dan
memang sudah tidak ada tujuan lain lagi maka saya putuskan untuk kembali
kerumah, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam saya bisa menikmati gowes plus
grafiti yang ngak bisa saya nikmati ketika saya membawa motor. Dibawah ini ada beberapa gambar grafiti dari jepretan kamera Hp saya, dan tentu saja masih banyak grafiti lain di kota Jogja ini yang ngak kalah bagusnya dari grafiti yang saya foto tersebut.
statistics
Subscribe
Recent
Comment
Label
- #BatikKayu #Batik #Tradisional #Desawisata #Krebet #Topeng #Bantul #SMK #dwitoro
- #BatuKaras #Pantai #Pangandaran #Beach #Surfing #Beautiful #JawaBarat #Sunda #Pasundan #Piknik #dwitoro
- #Bioskop #Nonton #Film #Indonesia #Cinema #Cinemaxx #CGV #21 #XXI
- #Bola
- #CandiAbang #Temple #Hill #WisataJogja #Sleman
- #Curhat
- #ElingBening #RawaPening #Ambarawa #VisitAmbarawa #ExploreAmbarawa #Wisata #Alam #Semarang #AyoDolan #VisitJateng #Java #dwitoro
- #Gowes
- #GreenCanyon #CukangTaneuh #Pangandaran #River #Ciamis #VisitPangandaran #VisitJabar #Sunda #Piknik #Travelling #dwitoro
- #Kalibiru #Waduk #Sermo #Kulonprogo #WisataAlam #Puncak #Dipowono #Cantingmas
- #MasjidGede #Mataram #KotaGede #Mosque #Haritage #Kerajaan #Mataram #Islam #Ramadhan #MarhabanYaaRamadhan #kotalama #Jogja #VisitJogja #Gowees #dwitoro
- #mBolang
- #PantaiGreweng #Beach #VisitJogja #VisitGunungKidul #RWK #Holiday #Ngecamp #pantai #Wonosari #mBolang #dwitoro
- #Permainan #Tradisional #Festival #Dolanan #Anak #Game #Java
- #PuncakGantolle #Gantolle #Paralayang #Waduk #GajahMungkur #Wonogiri #JawaTengah #VisitJawatengah #ExploreWonogiri #Lawu #Piknik #ayoKeJawaTengah #Dolan #dwitoro
- #Seni
Tags 1
- #BatikKayu #Batik #Tradisional #Desawisata #Krebet #Topeng #Bantul #SMK #dwitoro
- #BatuKaras #Pantai #Pangandaran #Beach #Surfing #Beautiful #JawaBarat #Sunda #Pasundan #Piknik #dwitoro
- #Bioskop #Nonton #Film #Indonesia #Cinema #Cinemaxx #CGV #21 #XXI
- #Bola
- #CandiAbang #Temple #Hill #WisataJogja #Sleman
- #Curhat
- #ElingBening #RawaPening #Ambarawa #VisitAmbarawa #ExploreAmbarawa #Wisata #Alam #Semarang #AyoDolan #VisitJateng #Java #dwitoro
- #Gowes
- #GreenCanyon #CukangTaneuh #Pangandaran #River #Ciamis #VisitPangandaran #VisitJabar #Sunda #Piknik #Travelling #dwitoro
- #Kalibiru #Waduk #Sermo #Kulonprogo #WisataAlam #Puncak #Dipowono #Cantingmas
- #MasjidGede #Mataram #KotaGede #Mosque #Haritage #Kerajaan #Mataram #Islam #Ramadhan #MarhabanYaaRamadhan #kotalama #Jogja #VisitJogja #Gowees #dwitoro
- #mBolang
- #PantaiGreweng #Beach #VisitJogja #VisitGunungKidul #RWK #Holiday #Ngecamp #pantai #Wonosari #mBolang #dwitoro
- #Permainan #Tradisional #Festival #Dolanan #Anak #Game #Java
- #PuncakGantolle #Gantolle #Paralayang #Waduk #GajahMungkur #Wonogiri #JawaTengah #VisitJawatengah #ExploreWonogiri #Lawu #Piknik #ayoKeJawaTengah #Dolan #dwitoro
- #Seni
Gallery
Formulir Kontak
Follow us on FaceBook
About
Powered by Blogger.
Tags 3
- #BatikKayu #Batik #Tradisional #Desawisata #Krebet #Topeng #Bantul #SMK #dwitoro
- #BatuKaras #Pantai #Pangandaran #Beach #Surfing #Beautiful #JawaBarat #Sunda #Pasundan #Piknik #dwitoro
- #Bioskop #Nonton #Film #Indonesia #Cinema #Cinemaxx #CGV #21 #XXI
- #Bola
- #CandiAbang #Temple #Hill #WisataJogja #Sleman
- #Curhat
- #ElingBening #RawaPening #Ambarawa #VisitAmbarawa #ExploreAmbarawa #Wisata #Alam #Semarang #AyoDolan #VisitJateng #Java #dwitoro
- #Gowes
- #GreenCanyon #CukangTaneuh #Pangandaran #River #Ciamis #VisitPangandaran #VisitJabar #Sunda #Piknik #Travelling #dwitoro
- #Kalibiru #Waduk #Sermo #Kulonprogo #WisataAlam #Puncak #Dipowono #Cantingmas
- #MasjidGede #Mataram #KotaGede #Mosque #Haritage #Kerajaan #Mataram #Islam #Ramadhan #MarhabanYaaRamadhan #kotalama #Jogja #VisitJogja #Gowees #dwitoro
- #mBolang
- #PantaiGreweng #Beach #VisitJogja #VisitGunungKidul #RWK #Holiday #Ngecamp #pantai #Wonosari #mBolang #dwitoro
- #Permainan #Tradisional #Festival #Dolanan #Anak #Game #Java
- #PuncakGantolle #Gantolle #Paralayang #Waduk #GajahMungkur #Wonogiri #JawaTengah #VisitJawatengah #ExploreWonogiri #Lawu #Piknik #ayoKeJawaTengah #Dolan #dwitoro
- #Seni
Tags 4
- #BatikKayu #Batik #Tradisional #Desawisata #Krebet #Topeng #Bantul #SMK #dwitoro
- #BatuKaras #Pantai #Pangandaran #Beach #Surfing #Beautiful #JawaBarat #Sunda #Pasundan #Piknik #dwitoro
- #Bioskop #Nonton #Film #Indonesia #Cinema #Cinemaxx #CGV #21 #XXI
- #Bola
- #CandiAbang #Temple #Hill #WisataJogja #Sleman
- #Curhat
- #ElingBening #RawaPening #Ambarawa #VisitAmbarawa #ExploreAmbarawa #Wisata #Alam #Semarang #AyoDolan #VisitJateng #Java #dwitoro
- #Gowes
- #GreenCanyon #CukangTaneuh #Pangandaran #River #Ciamis #VisitPangandaran #VisitJabar #Sunda #Piknik #Travelling #dwitoro
- #Kalibiru #Waduk #Sermo #Kulonprogo #WisataAlam #Puncak #Dipowono #Cantingmas
- #MasjidGede #Mataram #KotaGede #Mosque #Haritage #Kerajaan #Mataram #Islam #Ramadhan #MarhabanYaaRamadhan #kotalama #Jogja #VisitJogja #Gowees #dwitoro
- #mBolang
- #PantaiGreweng #Beach #VisitJogja #VisitGunungKidul #RWK #Holiday #Ngecamp #pantai #Wonosari #mBolang #dwitoro
- #Permainan #Tradisional #Festival #Dolanan #Anak #Game #Java
- #PuncakGantolle #Gantolle #Paralayang #Waduk #GajahMungkur #Wonogiri #JawaTengah #VisitJawatengah #ExploreWonogiri #Lawu #Piknik #ayoKeJawaTengah #Dolan #dwitoro
- #Seni
Popular Posts
-
Halo sob gimana puasanya? Masih lancarkan to? Alhamdulillah kalau masih lancar, berhubung diawal puasa ini belum sempet mbolang...
-
Butuh waktu kurang lebih dua jam perjalanan yang saya lakukan untuk mencapai tempat ini dari kota Jogja, bukit gantole atau paralayang yang...
-
Salah Satu Adegan dalam Obrolan Angkring TVRI Jogja Sebuah program acara unggulan yang dimiliki oleh TVRI Jogja, sesuai den...
-
Salah satu dari kalian pasti pernah punya atau bahkan masih punya benda yang satu ini, Headset, headphone, handsfree, backphone, earclip be...
-
Ramayana Ballet Prambanan sebuah pementasan sendratari yang mengangkat tentang cerita epos Ramayana yang terukir dalam relief candi Pra...
-
Sejarah Singkat tentang Kab. Bantul bermula dari Pemerintah Hindia Belanda dan Sultan Yogyakarta pada tanggal 26 dan 31 Maret 1831 mengada...
-
Malam ini ditengah rintik hujan yang dari tadi sore turun dan sampai saat ini belum juga berhenti aku mau menuliskan kisah ...
-
Bagi pecinta olah raga surfing mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Pantai Batu Karas,pantai yang terletak di Desa Batu Karas...
-
Keseruan Festival Kegiatan Anak Dalam rangka menyambut HUT Remaja Wijaya Kusuma yang ke-40 organisasi pemuda di lingkup Padukuhan Kalir...
-
Dimasa engkau terlahir hal-hal ini terjadi untuk mu aku bersaksi Dimasa engkau terlahir orang-orang seakan berlarian terburu-buru kearah ...

























